Kronologi Klaster Corona Pasar Simo Surabaya, Berawal Dari Sepasang Suami Istri
Nasional

Terungkap kronologi klaster penyebaran virus corona (COVID-19) yang terjadi di Pasar Simo Surabaya. Ternyata berawal dari sepasang suami istri pedagang. Bagaimana kejadiannya?

WowKeren - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) telah melaporkan hasil pelacakan (tracing) virus corona (COVID-19) di wilayahnya. Tercatat, Jatim memiliki 52 klaster penyebaran virus corona dimana sebagian kasus ada di kota Surabaya.

Salah satu klaster COVID-19 yang ditemukan berada di Pasar Simo, Surabaya. Rupanya, klaster di Pasar Simo ini berawal dari sepasang suami istri yang berusia 72 tahun dan 65 tahun.

Sepasang suami istri ini diketahui setiap harinya mencari nafkah dengan berdagang di Pasar Simo. Pada April lalu, pasangan ini jatuh sakit dan menjalani opname di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA).

Ketua Gugus Tugas Kuratif COVID-19 Jatim sekaligus Direktur RSUD dr Soetomo Surabaya, Joni Wahyuhadi menjelaskan kronologinya. Suami pedagang itu disebutkan meninggal dunia pada 26 April.

Sementara itu, hasil tes yang baru keluar pada 1 Mei menyatakan jika pasangan ini ternyata positif terinfeksi virus corona. Sang istri juga dikabarkan meninggal dunia akibat COVID-19 pada 2 Mei setelah tes keluar.

Lebih lanjut Joni memaparkan hasil tracing yang dilakukan Tim Tracing Jatim. Pelacakan terhadap klaster Pasar Simo sendiri merupakan perintah langsung dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur.


Pelacakan terhadap orang-orang yang diduga berkontak dengan pasangan pedagang yang sudah meninggal tersebut sudah berlangsung sejak Senin (11/5) kemarin. Tim Jatim lantas mengumpulkan keterangan dari Puskesmas Simomulyo.

Dari situlah, Tim Tracing Jatim mendapatkan sejumlah informasi seputar keluarga pedagang yang telah meninggal tadi. Rupanya, keluarga inti pasangan suami istri pedagang Pasar Simo tersebut telah menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing dan sudah melewati masa observasi selama 14 hari.

“Pada 26 April (hari yang sama ketika si suami meninggal), Tim Tracing di kelurahan sudah melacak keluarganya,” terang Joni. “Ada dua putranya, domisilinya terpisah dan sudah dilakukan rapid test.”

Tidak sampai disitu, Puskesmas juga telah menggelar rapid test terhadap 30 orang di sekitar tempat tinggal pasangan itu. Hasilnya, satu orang dinyatakan reaktif dalam rapid test.

”Juga sudah dilakukan swab terhadap orang itu, tinggal menunggu hasilnya keluar,” tutur Joni. “Tanpa menunggu, tim juga sudah melakukan tracing terhadap yang bersangkutan. Lalu pada 7 Mei pasar ditutup.”

“Jadi semua penanganan dengan protokol penanganan pasien dan pelacakan terhadap orang-orang yang pernah kontak sudah dijalankan,” sambungnya. “Mudah-mudahan kasusnya hanya sampai di situ.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait