Matahari Dalam Fase 'Lockdown', Bakal Pengaruhi Aktivitas Gunung Api di Indonesia?
Instagram/balichannel
Nasional

Matahari yang memasuki fase 'lockdown' disebut-sebut akan membawa bencana alam. Lantas, adanya peristiwa ini akankah mempengaruhi aktivitas gunung berapi di Indonesia?

WowKeren - Para ilmuwan mengatakan bahwa saat ini matahari tengah memasuki fase "lockdown". Peristiwa ini disebut-sebut berpotensi menciptakan berbagai bencana alam yang melanda Bumi, seperti gempa, cuaca beku, hingga kelaparan.

Dikutip dari The Sun, periode minimum matahari ini berpotensi menimbulkan letusan besar gunung berapi, suhu yang anjlok hingga 2 derajat, kegagalan panen, dan timbulnya kelaparan. Seperti yang terjadi pada Gunung Tambora yang meletus pada 10 April 1815.

Menurut sebuah studi, peningkatan sinar kosmik pada saat aktivitas matahari rendah diduga menjadi pemicu aktifitas vulkanik pada gunung berapi. Lantas adanya fenomena minimum matahari yang terjadi saat ini apakah hal itu akan mempengaruhi aktifitas vulkanik di gunung-gunung berapi Indonesia?

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani menjelaskan memang ada beberapa paper yang menunjukkan adanya korelasi antara aktivitas gunung api dengan pola aktivitas matahari. Namun dia mengatakan masih ada banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas vulkanik gunung berapi.

“Singkatnya, aktivitas vulkanik jauh lebih dipengaruhi oleh pergerakan magma di bawah gunung itu dari pada posisi matahari terhadap bumi,” jelas Kasbani dilansir Kompas, Selasa (19/5). Penelitian tersebut terkait korelasi minimum matahari yang mempengaruhi aktivitas vulkanik ditunjukkan dengan data statistik. Yaitu saat kondisi matahari mengalami solar minimum, erupsi gunung berapi lebih banyak terjadi.


Sedangkan, saat solar maksimum (maksimum matahari) jumlah erupsi lebih sedikit. “Secara teori fisika, memang ada rumus gaya tarik menarik antara bumi dengan benda langit lainnya, dimana jika jarak minimal maka gaya tarik menarik lebih besar,” terangnya. "Sehingga itu disimpulkan juga menjadi faktor yang menyebabkan erupsi gunung api lebih banyak dalam periode ini (minimum matahari)."

Akan tetapi, Kasbani menekankan teori-teori tersebut adalah teori yang berkaitan dengan external force atau gaya dari luar gunung api. “Artinya, teori itu tidak akan selalu terjadi. Buktinya tidak semua gunung mengalami erupsi bersama-sama,” katanya.

Dengan demikian, ini membuktikan bahwa internal force (gaya dari dalam) gunung api adalah faktor terpenting yang menentukan sebuah gunung berapi akan erupsi atau tidak. Lebih lanjut ia menjelaskan, erupsi gunung berapi dipicu oleh kelebihan tekanan (overpressure) akibat adanya pergerakan fluida magma.

“Tanpa adanya kondisi overpressure maka suatu gunung api, meskipun solar minimal, tidak akan erupsi," paparnya. "Sebaliknya, jika suatu gunung sudah sangat overpressure, meskipun solar maksimal juga tetap akan erupsi."

Di Indonesia sendiri hingga saat ini masih memiliki 20 gunung api yang statusnya di atas normal dan masih memiliki potensi erupsi meskipun hanya erupsi kecil. “Belum ada indikasi untuk erupsi yang besar,” tandasnya.

(wk/nidy)


You can share this post!

Related Posts