Angka Kematian Anak Karena COVID-19 Di Indonesia Tinggi, IDAI Bentuk Satgas Khusus
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Angka kematian anak Indonesia akibat virus corona (COVID-19) hingga saat ini masihlah tinggi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun membentuk Satgas COVID-19 khusus untuk anak-anak.

WowKeren - Kasus positif COVID-19 di Indonesia bertambah setiap harinya. Hingga Jumat (5/6), tercatat total 29.521 orang yang positif terjangkit virus corona. Dari jumlah tersebut ada 9.443 orang yang dinyatakan sembuh dan 1.770 orang meninggal dunia.

Diantara korban meninggal tersebut diantaranya adalah anak-anak. Karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah membentuk Satgas COVID-19 untuk menangani kasus infeksi virus corona jenis baru pada anak-anak.

Ketua Satgas COVID-19 IDAI Dr. Yogi Prawira, Sp.A(K) mengatakan, pembentukan satgas itu awalnya untuk mengumpulkan data terkait COVID-19 yang menimpa anak-anak di seluruh Indonesia. "Ketua IDAI dokter Aman awalnya berusaha melakukan update, jadi setiap minggu mengumpulkan data dari seluruh Indonesia apakah sama besarnya seperti di luar negeri," kata Dr. Yoga Prawira, Sp.A(K) lewat siaran tertulis dilansir Suara.com, Sabtu (6/6). "Dan ternyata cukup banyak masalah."

Ia menyampaikan bahwa jumlah kasus COVID-19 pada anak-anak di Indonesia memang tidak berbeda seperti di negara lain. Rata-rata proporsinya sekitar 5-10 persen dibandingkan pasien COVID-19 orang dewasa dan lansia.


Yoga menyampaikan, ada dua isu utama yang digaungkan Satgas COVID-19 IDAI saat ini. Pertama, mengenai keselamatan dokter. Menurut Yoga, tenaga kesehatan, terutama yang menangani pasien Covid, berpotensi besar jadi penular virus bagi orang lain.

"Tapi kalau dia sakit lalu dirumahkan lama-lama rumah sakit akan tutup," ujarnya. Lalu isu kedua, soal meski jumlah pasien COVID-19 anak-anak sama dengan negara lain tetapi mortalitas atau angka kematiannya justru lebih tinggi.

"Pada awalnya kita fokus bagaimana menjaga anak yang sudah terpapar mendapatkan perawatan baik," tuturnya. "Sekarang, waktunya kita memikirkan bagaimana anak-anak tetap sehat jangan sampai malah terinfeksi lalu menjadi healthy carrier dan menyebarkan pandemi ini."

Salah satu penyebab kematian pasien COVID-19 anak-anak juga disebabkan penyakit penyerta atau komorbid. "Beberapa anak ternyata mengalami komorbid yang beragam salah satunya masalah gizi yang menyebabkan stunting. Angka stunting kita cukup tinggi," katanya.

Sebelumnya, data IDAI menunjukan, jumlah anak-anak yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 sebanyak 3.324 orang hingga 18 Mei. Dari jumlah tersebut 129 di antaranya meninggal dunia. Sedangkan jumlah anak yang terkonfirmasi positif COVID-19 ada 584 anak dengan angka kematian 14 orang.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts