Sebuah postingan berisi curhatan guru honorer yang hanya mendapat gaji Rp 200 ribu per bulannya menjadi viral di Twitter. Bahkan dalam postingan tersebut ia merincikan pengelolaan keungannya yang minim.
- Nidya Putri
- Rabu, 10 Juni 2020 - 13:01 WIB
WowKeren - Sebuah postingan seorang guru honorer di media sosial baru-baru mengundang perhatian masyarakat. Pasalnya, dalam postingan tersebut, sang guru menceritakan bagaimana perjuangannya untuk bertahan hidup dengan gaji minim Rp 200 ribu per bulan.
Adalah Yan Budi Nugroho, seorang guru honorer di SDN Tridadi, Kecamatan Loano, Purworejo. Ia mengaku awal menjadi guru honorer pada 2014 hanya mendapat gaji sebesar Rp 50.000 per bulan. Gaji Rp 200.000 per bulan baru ia dapat 2018 dan belum ada kenaikan lagi.
"Dari awal saya masuk di dunia pendidikan saya mendapat upah Rp 50.000 terus naik Rp 100.000, terus naik Rp 150.000, terus sampai Rp 200.000 sekarang sejak 2018," kata Yan dilansir Detikcom, Rabu (10/6).
Ia merinci dari upah Rp 200.000 per bulan digunakan untuk memberi uang belanja ibu, ngajak pacar makan, reward untuk anak murid, jajan, bensin selama satu bulan, hingga tabungan untuk nikah. "Intinya abis dapat upah langsung kasih ibu 20k buat beli bumbu dapur. Kemudian buat pacar maksimal anggaran 50k, yaah lumayanlah bisa makan bakso. Minumnya es teh manis buat doi, aku es teh tawar aja. Terakhir harus disisain 20k buat nikah. Walaupun hasilnya tetep ga banyak tapi paling ga ada duit kalau misalnya ngebet nikah udah bisa ke KUA," ungkapnya di Twitter.
Perhitungan hemat tersebut benar-benar ia lakukan. Tujuannya membagikan di sosial media untuk mengajak orang yang memiliki gaji lebih besar agar lebih bersyukur dan bisa meniru caranya untuk berhemat.
"Tujuan saya bukan untuk mencari belas kasihan tapi saya ingin berbagi suatu hal yang menurut saya sangat penting karena banyak sekali di luar sana dapat upah yang tinggi tapi masih saja mengeluh," ujarnya.
Tak sampai di situ, ia juga mengatakan jika adanya pandemi corona ini berdampak pada profesi guru honorer. Yan mengungkapkan, selama pandemi ini tidak dapat insentif dari Kabupaten sebesar Rp 500.000 per bulan.
Padahal insentif tersebut sangat bermanfaat untuk menambah upah pokoknya yang hanya Rp 200.000 per bulan. "(Insentif) besarannya Rp 500.000 per bulan cuma tanggalnya saja yang tidak pasti. Untuk masa pandemi ini guru honorer untuk wilayah saya nggak ada insentifnya, jadi hanya dapat yang Rp 200.000 itu," katanya.
Alasan insentif yang tidak cair terhitung sejak April ini karena guru honorer tidak mengajar di sekolah. Padahal guru-guru pada dasarnya tetap bekerja meskipun secara online.
"Dari pihak pemerintah kabupaten memang ada surat edaran yang menyebutkan seperti itu. Alasannya mungkin karena guru honorer atau guru-guru ini nggak mengajar karena sekolah diliburkan dan belajar di rumah, kalau menurut kacamata mereka," paparnya. "Tapi menurut kacamata kami guru-guru semua, sebenarnya kita tetap bekerja lewat online sebagian."
Terlebih Yan berinisiatif untuk mengajar keliling selama pandemi ini. Hal itu dilakukan karena tidak semua muridnya memiliki handphone (HP) dan kuota internet.
"Untuk punya data kuota dan HP android itu ibaratnya belum semua punya, masih bergantian dengan keluarga. Yang susah ketika bapaknya kerja dan nggak ada alat komunikasi lain," paparnya. "Jadi kalau saya kirim tugas hari ini bisa kemungkinan mereka kirim baliknya 2 hari setelah ini, itu yang jadi permasalahan."
Oleh karena itu, ia mengajak teman seprofesinya untuk mengambil kerja sampingan. Pekerjaan yang dimaksud adalah menjadi YouTuber demi menutupi kekurangan upah Rp 200 ribunya.
Cara ini diharapkan dapat mengangkat derajat guru honorer yang sering dilupakan. Dia sendiri membuat konten beberapa hari ini lewat akun YouTube-nya Yan Budi Nugroho yang mengangkat tentang isu pendidikan.
Meski dari pekerjaan sampingan ini ia mendapatkan uang yang cukup banyak. Uang tersebut akan ia gunakan untuk dunia pendidikan dan kesejahteraan guru honorer.
(wk/nidy)