Kasus COVID-19 di Indonesia sempat memecahkan rekor tertinggi. Ahli kesehatan lantas mempertanyakan rencana pemerintah yang tidak berniat mengundurkan rencana new normal.
- Ruth Meliana
- Jumat, 12 Juni 2020 - 09:50 WIB
WowKeren - Kasus virus corona (COVID-19) di Indonesia sempat memecahkan rekor tertinggi pada Rabu (10/6) lalu. Tercatat, jumlah pasien virus corona bertambah 1.241 orang dalam waktu sehari.
Berdasarkan data covid19.go.id hingga Kamis (12/6) pagi, Indonesia telah memiliki 35.295 kasus virus corona. Kondisi ini telah membuat banyak pihak menyoroti rencana pemerintah yang akan segera menerapkan new normal.
Ketua Ikatan Ahli kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Darmawan mengatakan seharusnya pemerintah mengevaluasi terlebih dahulu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pasalnya, wilayah yang menerapkan PSBB saja masih terus mengalami kenaikan kasus virus corona, tentunya new normal justru akan membuat kasus COVID-19 semakin melonjak.
Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) ini lantas meminta pemerintah mengendalikan penyebaran virus corona terlebih dahulu secara stabil dengan kebijakan PSBB. Setelah situasi terkendali, maka pemerintah baru bisa mulai menerapkan kebijakan hidup normal baru.
”Yang terjadi sekarang, mohon maaf, ada dis-sinkronisasi gitu ya,” kata Ede seperti dilansir dari Liputan6, Kamis (11/6). “Pemerintah daerah pengen tetap PSBB, tapi pemerintah pusat ingin losing atau mengendorkan, jadilah seperti ini.”
Lebih lanjut Ede menjelaskan manfaat PSBB selama ini yang berhasil mempermudah kinerja Gugus Tugas COVID-19 dalam menemukan klaster corona. Sebagai contoh saat ada klaster COVID-19 di pasar tradisional, maka petugas bisa memberikan perhatian khusus pada klaster tersebut dan berusaha mengendalikan penyebarannya.
”Atau klaster transportasi, klaster GBK. Karena kalau hari ini diumumkan bukan berarti kasus penyebarannya kemarin persis, tapi kasus lima sampai 7 hari yang lalu,” jelas Ede. “Ini juga barangkali yang harus disampaikan agar lebih clear, supaya masyarakat tidak lagi bingung menangkapnya.”
Ede menyimpulkan jika Indonesia belum siap menuju new normal lantaran kasus penambahan pasien virus corona setiap hari masih belum mengalami penurunan, dan justru terus meningkat. Ia juga mengingatkan kebijakan new normal di saat ini justru bisa berdampak fatal lantaran penyebaran kasus semakin tidak terkendali.
Pelonggaran PSBB juga bisa meningkatkan risiko terjadinya penambahan. Jadi yang ideal itu sebenarnya jangan melonggarkan dulu, jangan new normal dulu,” pesan Ede. “New normal itu sebenarnya kan kesiapan kita untuk hidup dengan menerapkan norma baru, itu yang harus dipahami.”
”Jadi persiapannya dulu yang harus kita lakukan, bukan mendahulukan mempromosikan new normal itu,” sambungnya. “Sebenarnya belum waktunya kita merelaksasi kalau seperti ini penambahan kasusnya. Artinya, masyarakat belum siap, belum mampu menerapkan norma baru untuk bisa hidup dalam new normal.”
(wk/lian)