Peneliti epidemiologi klinis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Tifauzia Tyassuma, menilai jika wacana new normal akan dianggap sebagai isyarat bahwa penularan virus tak lagi dalam tahap membahayakan.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 12 Juni 2020 - 14:19 WIB
WowKeren - Penerapan skenario new normal di Indonesia masih menyisakan pro kontra. Pasalnya, kasus COVID-19 di negeri ini masih cukup tinggi sedangkan di lain sisi, roda ekonomi harus terus berputar.
Sebelum benar-benar menerapkan new normal, sejumlah wilayah menerapkan pembatasan sosial berskala besar transisi. Dalam PSBB transisi ini ada sejumlah kelonggaran yang diberikan. Termasuk salah satunya layanan transportasi publik.
Adanya gembar-gembor yang menggema justru dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya kewaspadaan masyarakat. Peneliti epidemiologi klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Tifauzia Tyassuma, menilai jika wacana new normal ini akan dianggap sebagai isyarat bahwa penularan virus tak lagi dalam tahap membahayakan.
"Mau enggak mau kita harus sampaikan bahwa di Indonesia pertama kali gaung new normal itu kan dilakukan sendiri oleh pemerintah. Oleh presiden sendiri mengatakan new normal," kata Tifauzia dilansir Kumparan, Jumat (12/6). "Sementara, per definisi, new normal kan sampai dengan hari ini belum jelas apa yang dimaksud dengan new normal itu sendiri."
Meskipun kebijakan terkait new normal belum benar-benar diterapkan namun hal itu dikhawatirkan akan menurunkan kewaspadaan masyarakat. "Masih wacana-wacana. Tapi, itu menyebabkan kewaspadaan dari masyarakat menjadi berkurang," tegasnya.
Pada umumnya, sebagian besar masyarakat Indonesia kurang literasi. Maksudnya di sini bukan buta huruf, melainkan lebih ke bagaimana masyarakat memahami informasi yang didapat.
"Ya, karena kita tahu kan 90 persen masyarakat itu kan iliterasi," lanjutnya. "Bukan soal buta huruf ya, tapi soal bagaimana mereka punya pemahaman tentang informasi yang mereka dapatkan, terutama dari sosial media."
Sementara itu, informasi yang beredar terutama di media sosial tidak semua bisa dipertanggungjawabkan. Masyarakat yang bingung karena simpang siur informasi akhirnya akan mengambil jalan pintas. Kondisi semacam ini dikhawatirkan akan memicu peningkatan kasus.
"Kebingungan itu kemudian (membuat) mereka ambil jalan pintas: 'Ya udah, kalau begitu corona sudah berhenti' gitu," jelasnya. "Dengan asumsi-asumsi yang muncul yang sama sekali tidak punya validitas."
(wk/zodi)