Kecewa Hasil Swab Test, Pasien Corona Ngamuk Bakar Tenda Di Ambon
Getty Images
Nasional

Merasa tidak puas dengan hasil swab test PCR COVID-19, pasien positif virus corona di Ambon ngamuk dan membakar tenda di tempat isolasi. Bagaimana kejadiannya?

WowKeren - Sejumlah pasien virus corona (COVID-19) di Ambon baru saja mengamuk saat sedang menjalani isolasi. Kejadian ini terjadi di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Maluku (Kementerian Pendidikan dan Budaya) di Jalan Tihu Wailela, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon pada Jumat (13/6) sekitar pukul 22.00 WIT.

Kemarahan pasien corona ini diduga akibat mereka merasa tidak puas dengan hasil swab test PCR yang telah dilakukan. Mereka langsung marah dan membakar satu tenda penitipan barang yang terletak di depan pasien.

Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Maluku, Kasrul Selang menjelaskan duduk permasalahan ini. Menurutnya, para pasien COVID-19 merasa kecewa karena petugas medis dinilai kurang transparan dengan hasil swab test.

Selain itu, para pasien juga marah karena keinginan mereka untuk menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing tidak diperbolehkan. Mereka menuntut pulang dengan alasan tidak bergejala dan merasa sehat dari COVID-19.

”Subtansinya mereka menilai petugas kurang transparan terhadap hasil swab,” jelas Kasrul Selang seperti dilansir dari Detik, Sabtu (13/06). “Kemarin swab 26 orang yang negatif ada 5 orang.”


”Aspirasinya mereka mau pulang untuk karantina rumah saja,” sambungnya. “Karena mereka tidak bergejala (OTG COVID-19) dan merasa sehat-sehat saja.”

Menanggapi protes para pasien virus corona tersebut, Kasrul mengaku akan segera membahasnya dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon. Salah satunya adalah terkait tuntutan pasien yang ingin melakukan karantina mandiri.

Keputusan untuk memperbolehkan seorang pasien virus corona menjalani isolasi mandiri menurut Kasrul tidak bisa langsung diambil. Pasalnya, ada sejumlah kriteria dan pertimbangan yang harus dilihat untuk mengizinkan pasien COVID-19 isolasi mandiri di rumah.

”Kita akan akan bahas dengan taman-taman di Pemkot,” ungkap Kasrul. “Kalau karantina mandiri di rumah, bagaimana mekanismenya dan kriteria rumah yang bisa.”

Lebih lanjut Kasrul menjelaskan jika butuh pantauan RT, petugas kesehatan, hingga masyarakat setempat untuk mengawasi isolasi mandiri yang dilakukan pasien. “Tapi sangat tergantung kondisi media pasien, rumah, lingkungan dan lain kain. Masih bahas dulu,” pungkasnya.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait