Selain mengeluhkan adanya dugaan pengiriman sapi fiktif melalui tol laut, para pengusaha tersebut juga menduga ada monopoli sehingga menyebabkan pengiriman sapi terhambat.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 16 Juni 2020 - 12:14 WIB
WowKeren - Sejumlah pengusaha sapi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluhkan adanya dugaan pengiriman sapi fiktif ke Jakarta. Sehingga mereka pun melayangkan protes ke ke Kantor Karantina Hewan Klas 1 Kupang, Senin (15/6).
Selain mengeluhkan adanya dugaan pengiriman sapi fiktif melalui tol laut, para pengusaha tersebut juga menduga ada monopoli sehingga menyebabkan pengiriman sapi menjadi terhambat. Adapun dugaan monopoli dan pengiriman fiktif itu terkuak ketika surat permohonan tol 1 dari pengusaha untuk pengiriman sapi, dialihkan ke tol 3.
Sedangkan di lapangan, kapal pengangkut sapi KM Cemara Nusantara untuk tol 3 hingga kini masih rusak. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Direktur CV Sutami Putra Jaya, Tono Sutami, yang merupakan salah satu pengusaha sapi.
"Permohonan kami ke tol 1, tetapi malah dialihkan. Sementara kapal untuk tol 3 masih rusak," tutur dia. "Kenapa sapi-sapi yang selama ini dikarantina tidak dimuat untuk penuhi kuota? Kenapa kelabui kami dengan mengalihkan ke tol 3 yang kapalnya masih rusak."
Tak cukup sampai di situ. Menurutnya, ada sapi milik pengusaha tertentu yang diprioritaskan oleh petugas karantina melalui tol 1. Alhasil, sapi-sapi milik pengusaha lainnya harus tertahan sehingga para pemiliknya harus membayar kerugian dari biaya pakan sapi.
"Kapal ini butuh waktu dua minggu untuk kembali di NTT dan jelas biaya pakannya membengkak," lanjutnya. "Kami merasa dirugikan, karena ada pengusaha yang jadi anak emas, kami lain dianaktirikan."
Sementara itu, pengusaha yang lainnya, Anis Laka, mengeluhkan soal penurunan kuota pengiriman. Jika biasanya kuota pengiriman sapi 200 ekor maka sekarang menyusut menjadi 100 ekor.
Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Karantina Hewan NTT, Benny Aprisa mengatakan jika penetapan kuota pengiriman itu sudah sesuai dengan arahan dari dinas peternakan NTT.
"Penetapan dari dinas peternakan hanya dilakukan via WhatsApp. Dan kami berpatokan pada itu. Jika ada perubahan, dinas harus informasikan ke kami," ujarnya. "Protes ini juga karena salah satu faktornya, kurang koordinasi dinas peternakan dengan kami."
(wk/zodi)