Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto kerap menghilang, strategi show and hide dalam menangani pandemi virus corona (COVID-19) disorot media.
- Ruth Meliana
- Rabu, 17 Juni 2020 - 15:30 WIB
WowKeren - Kinerja Menteri Kesehatan (Menkes) Terawa Agus Putranto di tengah pandemi virus corona (COVID-19) dipertanyakan. Pasalnya, Menkes Terawan dinilai kerap menghilang dari pandangan publik selama pandemi virus corona berlangsung.
Setelah sempat lama tak terlihat, Terawan kembali muncul di hadapan publik untuk memberikan perspektif pemerintah terkait pembukaan kembali sekolah di wilayah zona hijau COVID-19. Sayangnya, kemunculan Terawan ini justru memunculkan sikap skeptis di kalangan masyarakat.
Dilansir Pinter Politik, Menkes Terawan di awal pandemi virus corona masuk ke Indonesia cukup sering menampakkan diri dihadapan publik. Namun akibat komunikasi yang dinilai tidak tepat, penjelasan Terawan mengenai kasus corona di Indonesia kala itu kerap menuai kritikan dari publik.
Terawan pun secara perlahan mulai mengurangi intensitas komunikasi dihadapan publik. Namun cara tersebut rupanya kembali memicu kritikan lantaran banyak yang mempertanyakan keberadaan hingga kinerja Menkes di tengah situasi bencana ini.
Comeback Terawan saat ini sendiri muncul untuk memberikan penjelasan mengenai wacana pembukaan sekolah di zona hijau COVID-19 Indonesia. Namun, apa yang disampaikannya justru dituding oleh publik bahwa pemerintah menjadikan mereka yang bersekolah sebagai “kelinci percobaan” kebijakan new normal.
Padahal, komitmen pemerintah yang didukung Terawan ini sebenarnya merupakan kabar yang positif. Pasalnya, sekolah yang berada di zona hijau biasanya sulit terjangkau dan berada di pedalaman, sehingga metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilakukan tidak efektif dan dinilai akan menghambat akselerasi pendidikan.
Lalu mengapa kemunculan dan pernyataan Menkes Terawan menjadi serba salah meskipun apa yang disampaikannya tak salah? Pierre Bourdieu dalam publikasinya yang berjudul Über das Fernsehen atau On Television menjelaskan sebuah konsep menarik yang disebut sebagai show and hide strategy.
Strategi ini biasa digunakan oleh media, politisi, ataupun pejabat publik dalam rangka memunculkan atau menyembunyikan aspek spesifik sebagai fungsi kendali persepsi dan informasi tertentu di hadapan publik. Terawan dinilai menggunakan strategi tersebut
Setelah mendapat kritik tajam atas komentarnya di awal-awal pandemi, Terawan memutuskan untuk mengelola kehadiran fisik dan tutur katanya sehingga menimbulkan kesan menghilang. Ia tampak mengambil keputusan untuk tak muncul atau hide sementara waktu.
Kemudian munculnya Terawan saat pemerintah mengumumkan pembukaan sekolah semakin mengindikasikan strategi show and hide. Sayang, kritikan publik membuat strategi tersebut seharusnya tidak perlu diimplementasikan lagi.
(wk/lian)