Orangtua Murid Keluhkan Borosnya Kuota Untuk Belajar Dari Rumah, Kemendikbud   Tawarkan Solusi Ini
Reuters
Nasional

Selain borosnya kuota, orangtua murid juga mengeluhkan buruknya sinyal dan gawai atau gadget yang kurang menunjang sebagai masalah pelaksanaan 'sekolah online'.

WowKeren - Pandemi corona membuat para siswa harus mengikuti pembelajaran secara online dari rumah. Hal ini dilakukan karena sekolah ditutup untuk menghindari penularan virus corona (COVID-19).

Hal ini lantas membuat sejumlah orangtua murid mengeluhkan borosnya kuota yang dibutuhkan untuk belajar dari rumah. Selain itu, buruknya sinyal dan gawai atau gadget yang kurang menunjang juga menjadi masalah "sekolah online".

"Yang paling ganggu itu soal sinyal ya. Kadang gini ketika mereka lagi belajar sama gurunya, tiba-tiba sinyalnya hilang," ungkap salah satu orangtua murid SMP di Jakarta Timur bernama Basaria, dilansir detikcom pada Kamis (18/6). "Nah kan jadi enggak kedengaran jelas apa yang disampaikan guru."

Basaria juga mengeluhkan tingginya biaya yang dibutuhkan untuk membeli kuota internet. Menurutnya, ia harus merogoh kocek sebesar Rp 400 ribu per bulan supaya anaknya bisa belajar di rumah.

"Ditambah kan di rumah kan emang belum bisa masang wifi jaringannya belum ada. Jadi saya pakai kuota," jelas Basaria. "Itu jadinya nambah terus kuotanya buat nunjang belajarnya. Sebulan bisa dua kali ngisi kuota internet."


Hal serupa juga dikeluhkan oleh orangtua murid SD bernama Fitriyah. Ia juga mengeluhkan bahwa banyak orangtua yang tidak terlalu bisa menggunakan aplikasi di smartphone.

"Ribet, makan kuota banyak bikin paketan habis," ujar Fitriyah. "Banyak teman-teman yang orang tuanya yang enggak ngerti HP android."

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lantas menanggapi berbagai keluhan orangtua murid ini. Kemendikbud menyarankan agar siswa yang mengalami kesulitan tersebut melakukan pembelajaran di luar jaringan.

"Untuk siswa atau sekolah yang kesulitan akses internet, tingginya biaya pulsa, atau tidak adanya gadget yang bisa dipakai, maka sekolah atau guru melakukan pembelajaran luar jaringan," jelas Plt Dirjen PAUD-Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad. Adapun pembelajaran di luar jaringan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode.

Beberapa cara di antaranya adalah guru menggunakan bahan ajar buku, modul, hingga siaran BDR dari radio dan televisi. Selain itu, guru juga bisa mengajar langsung ke rumah siswa dengan batasan maksimal 5 siswa.

"Siswa belajar melalui buku atau modul atau melalui BDR melalui RRI atau TVRI, dan tetap diberi panduan apa yang dipelajari, tugas-tugasnya apa saja," pungkas Hamid. "Dan kapan guru berkunjung ke rumah siswa atau ke kelompok belajar siswa maksimal 5 orang."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait