Lewat laporan terbarunya, WHO menegaskan Corona bukan satu-satunya wabah yang wajib diprioritaskan penuntasannya oleh Indonesia. Justru penyakit inilah yang lebih menyita perhatian WHO.
- Elvariza Opita
- Kamis, 18 Juni 2020 - 14:46 WIB
WowKeren - Indonesia, sebagaimana negara lain, tengah dibuat pening dengan pandemi virus Corona. Apalagi saat ini sudah lebih dari 41 ribu orang yang dikonfirmasi terinfeksi virus tersebut.
Namun krisis kesehatan itu ternyata bukan satu-satunya yang menjadi sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap Indonesia. Sebab dalam laporan terbaru WHO yang diterbitkan pada Rabu (17/6) kemarin, WHO justru lebih menyoroti perkembangan penyakit Tuberkulosis (TB).
Sebagai informasi, TB merupakan penyakit yang seolah sudah "lazim" di Indonesia dan telah menewaskan banyak orang. Dan penyakit ini bak "terpinggirkan" gegara adanya wabah virus Corona.
Dilansir dari laporan WHO, setidaknya ada 6 dampak utama dari pandemi COVID-19 terhadap program penuntasan TB di Indonesia. Seperti yang paling utama adalah adanya pengurangan anggaran untuk TB demi mengatasi COVID-19.
"Banyak penundaan aktivitas penanganan TB di berbagai level," ungkap WHO dalam laporannya, dikutip pada Kamis (18/6). "Ada pula penurunan pelaporan kasus positif TB sampai 68 persen pada trimester pertama 2020."
Sebagai pembanding, pada trimester pertama 2019 lalu, Indonesia mencatat sebanyak 118.634 kasus positif TB pada orang dewasa. Sedangkan pada periode yang sama di tahun ini, hanya 22.393 kasus yang dikonfirmasi.
Situasi ini bukan berarti kasus TB sangat berkurang di tengah masyarakat. Namun lebih karena situasi tenaga medis yang diharuskan untuk merespons COVID-19 sehingga kesulitan untuk menindaklanjuti pasien TB.
Tentu saja kondisi ini tak boleh dibiarkan terlalu lama. Sebab, ungkap WHO, ada kemungkinan tingkat kematian akibat TB pada tahun 2020-2021 bisa kembali ke era sebelum 2015 yang memang "panen besar" kasus meninggal akibat TB.
WHO pun menuntut Indonesia untuk tetap memprioritaskan perkembangan TB di Indonesia. "WHO juga akan memberikan pendampingan teknis untuk otoritas TB sampai ke level terbawah," pungkas WHO.
Di sisi lain, nyatanya COVID-19 memang bukan satu-satunya penyebab krisis kesehatan yang "menghantui" Indonesia. Selain TB, ada pula Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, sampai Polio.
(wk/elva)