Pandemi virus corona (COVID-19) telah menghantam keuangan industri farmasi, utang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebesar Rp3 triliun disorot.
- Ruth Meliana
- Kamis, 18 Juni 2020 - 15:48 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) telah membuat keuangan industri farmasi turut terpukul sehingga mengancam kelangsungan usaha. Hal ini diungkapkan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Kadin menyebutkan jika masalah keuangan dalam industri farmasi ini turut menimpa ritel dan penyuplai obat. Wakil Ketua Umum Bidang CSR dan Persaingan Usaha Kadin, Suryani S Motik juga turut menyinggung utang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang mencapai Rp3 triliun.
”BPJS (Kesehatan) punya utang ke Asosiasi Farmasi Rp 3 triliun,” jelas Suryani melalui diskusi virtual, seperti dilansir dari Kumparan pada Kamis (18/6). “RS juga bermasalah. Jadi farmasi ritel dan suplai ke RS itu bayarnya belakangan.”
Utang BPJS Kesehatan dinilai semakin mempersulit industri farmasi bertahan di tengah pandemi virus corona. Dampaknya, pengusaha farmasi banyak merumahkan karyawan atau bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). “Sektor farmasi ada 200 ribu orang yang mengalami PHK,” beber Suryani.
Meski demikian, Suryani menjelaskan jika permasalahan ini sebenarnya sudah lama terjadi sebelum pandemi virus corona menghantam Tanah Air. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya warga Indonesia yang lebih memilih untuk berobat ke luar negeri.
“Saya tau persis karena saya terlibat di satu RS, bagaimana RS hidupnya kembang kempis,” jelas Suryani. “Awalnya setelah ada BPJS bagus sekali, tapi setelah BPJS ini RS sangat tidak sehat.”
”Padahal potensi market orang Indonesia yang pergi ke luar negeri tinggi,” sambungnya. “Ada penelitian, orang Indonesia yang spending untuk berobat ke luar negeri angkanya triliunan.”
Kadin lantas meminta agar pemerintah dengan serius segera memperbaiki sistem dalam industri farmasi. Terlebih, pandemi virus corona saat ini dapat membuat rumah sakit hingga industri farmasi menjadi tuan rumah sumber rujukan utama bagi warga Indonesia yang membutuhkan perawatan.
”Dengan dorongan pemerintah yang luar biasa mestinya kita bisa,” ungkap Suryani. “Terus terang saja RS ini kehilangan kepercayaan dari orang menengah ke atas. Jarang sekali yang percaya RS di Indonesia dan ini kesempatan untuk memperbaiki.”
(wk/lian)