Konflik AS-Tiongkok Bikin Panas Laut Cina Selatan, Prabowo Ogah RI Ikut-Ikutan
Nasional

Juru Bicara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan jika Indonesia tidak akan memihak ke proxy manapun yang tengah berkonflik.

WowKeren - Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok masih terus berlanjut. Salah satunya seperti yang terjadi di kawasan Laut Cina Selatan.

Militer kedua negara tersebut terlihat saling beradu kekuatan di kawasan itu. Meski demikian, Indonesia tidak akan ikut campur ke dalam konflik antar kedua negara tersebut.

"Kita kembali kepada UUD," kata Juru Bicara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Jumat (19/6). "Tentu kita tidak akan terlibat dalam konflik tersebut."

Indonesia, dikatakannya, tetap mengedepankan politik bebas dan aktif. Yang jelas, Indonesia tidak akan memihak kepada siapapun yang tengah berkonflik.

"Jadi kita bebas aktif terkait dengan itu. Kalau kemudian hubungan ekonomi, strategis, dan sebagainya dengan siapapun kita melakukan hal yang serupa," ujar Dahnil. "Pada prinsipnya kita tidak mau jadi proxy mereka-mereka yang sedang berkonflik."


Lebih lanjut, ia menyinggung terkait pandangan publik terhadap sikap Prabowo. Seperti ketika Prabowo menuai kritikan saat Indonesia tengah berseteru dengan Tiongkok terkait masalah Laut Cina Selatan belum lama ini.

Ia menegaskan bahwa Prabowo mengedepankan diplomasi mengingat RI memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah Tiongkok. Namun, publik menilai jika sikap Prabowo kurang tegas.

"Ini yang sering saya sebutkan publik mengalami blessing of unknowing begitu," lanjutnya. "Sedangkan kami misalnya yang di dalam tahu persis bagaimana harus bersikap itu menderita suffering of knowing."

Kembali ke konflik AS-Tiongkok di LVS, Dahnil mengingatkan agar Indonesia tidak masuk ke dalam jebakan proxy manapun. Sebab jika demikian, maka tidak menutup kemungkinan akan pecah perang di negeri ini.

Ia mencontohkan seperti Suriah yang telah berubah menjadi medan pertempuran. Menurutnya, banyak negara super power jarang melakukan peperangan di negara sendiri, melainkan di negara lain.

"Sikap Indonesia tentu adalah menginisiasi perdamaian," jelas mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini. "Apalagi kemudian dalam sejarah ini momentum COVID-19 itu sudah dilakukan membangun solidaritas."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts