Surabaya adalah kota dengan tingkat serangan serta laju penularan wabah Corona tertinggi di Indonesia. Secara spesifik ada 2 kecamatan di Surabaya yang dinilai penularan wabahnya paling tak terkendali.
- Elvariza Opita
- Jumat, 26 Juni 2020 - 08:51 WIB
WowKeren - Surabaya kini dikenal sebagai salah satu kota dengan perkembangan kasus Corona yang begitu mengkhawatirkan. Para pakar menyebut laju penularan dan tingkat serangan virus Corona di Kota Pahlawan tersebut begitu tinggi, bahkan termasuk yang angkanya paling besar se-Indonesia.
Dan diantara banyaknya kecamatan di Surabaya, Wali Kota Tri Rismaharini ternyata secara spesifik menyebutkan 2 daerah yang dianggap memiliki laju penularan tercepat. Hal ini tampak dari tingginya hasil rapid test di kedua wilayah tersebut, yakni Gubeng dan Tambaksari.
Menurut Risma, hal ini tak lepas dari banyaknya indekos yang berada di wilayah padat penduduk tersebut. Oleh karenanya Risma berencana untuk mengumpulkan aparat setempat demi membahas langkah pengendalian wabah lebih lanjut.
"Di situ banyak kos-kosan, karena itu kita butuh penanganan khusus untuk," ujar Risma di rumah dinasnya, Surabaya, Kamis (25/6). "Tidak tahu kapan, tapi akan bicara sama RT, RW se-Gubeng dan Tambaksari."
Bila nantinya bertemu dengan RT dan RW se-Gubeng dan Tambaksari, Risma akan meminta untuk memelototi wilayahnya. Sebab di sana banyak indekos dan terdapat episentrum. "Sebetulnya banyak kos-kosannya (Gubeng dan Tambaksari) ada episentrum, banyak yang kos di situ," jelas Risma, dilansir dari Detik News, Jumat (26/6).
Di sisi lain, berbagai upaya terus dilakukan, baik oleh Pemerintah Kota Surabaya maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengendalikan wabah Corona. Salah satunya dengan mengadakan tracing besar-besaran demi "mencari" pasien-pasien COVID-19, utamanya yang tak bergejala, dari berbagai daerah Surabaya.
Alasan ini pula yang kerap diungkapkan apabila ditanya mengapa Surabaya mencatatkan angka kasus positif yang begitu tinggi. Namun upaya tracing secara masif ini mendapat tanggapan miring dari Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo.
Windhu menyebut tingginya deteksi tak diimbangi dengan perbaikan kualitas serta kuantitas fasilitas kesehatan di Jatim. Hal ini tentu berdampak buruk terhadap proses pengobatan pasien. Di sisi lain, yang lebih memperkeruh suasana adalah perihal seringnya Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya cekcok.
(wk/elva)