Ini Pembelaan LSI Usai Prediksi Corona Akan Selesai Juni Tidak Terbukti
Nasional

Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA memberikan pembelaan ini setelah prediksi mengenai pandemi virus corona di Indonesia akan berakhir pada Juni resmi tak terbukti.

WowKeren - Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA sempat memprediksi jika pandemi virus corona (COVID-19) di Indonesia akan berakhir pada Juni 2020. Namun, prediksi tersebut terbukti meleset setelah Indonesia masih mencatatkan kasus penambahan virus corona yang cukup signifikan hingga akhir Juni.

Berdasarkan data dari covid19.go.id, Indonesia telah memiliki 56.385 kasus virus corona hingga Rabu (1/7). Sebanyak 24.806 pasien dinyatakan sembuh dan 2.876 orang meninggal dunia akibat virus corona. Pada Selasa (30/6), kasus virus corona di Indonesia tercatat bertambah 1.293 orang.

LSI sebelumnya melalui survei yang digelar April 2020 lalu, telah merilisi riset yang menyatakan bahwa virus corona di Indonesia akan berakhir pada Juni 2020. Riset tersebut turut menyertakan disclaimer mengenai kepatuhan terhadap sejumlah asumsi yang bila dilanggar, prediksi tidak akan terjadi.

Namun setelah prediksi tersebut terbukti salah, Peneliti Denny JA Ikram Masloman memberikan pembelaan. Menurutnya, survei saat itu merujuk pada asumsi bahwa protokol pencegahan COVID-19 dari WHO dipatuhi secara maksimal. Namun, ternyata protokol tersebut tidak dipatuhi dengan disiplin oleh masyarakat sehingga wabah virus corona masih ada dan bahkan tinggi hingga sekarang.

”Karena (saat) itu kita bilang asumsi terpenuhi. Pertama itu dipenuhi ketika protokol WHO dipenuhi, kemudian tidak terjadi namanya status quo, artinya tidak terjadi mutasi,” jelas Ikram Masloman seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (1/7). “Tapi faktanya, di riset kita selanjutnya, asumsi itu enggak terpenuhi.”

Sebagai contoh, Ikram menyoroti mengenai penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di 18 wilayah. PSBB tersebut dinilai belum berjalan secara maksimal sebagaimana riset lembaganya. Pasalnya, PSBB tersebut masih diwarani dengan banyak pelanggaran dari warga setempat.


Ikram juga menyoroti jika dari 18 wilayah yang menerapkan PSBB tersebut, tidak ada satu pun yang masuk ke dalam kategori A. Kategori ini dijelaskan sebagai wilayah yang mengalami penurunan kasus COVID-19 secara drastis.

”Yang terjadi hanya 4 yang terjadi penurunan walaupun itu enggak drastis. Jadi, kategori baik,” jelas Ikram. “Sisanya, misal ada 9 daerah yang tidak terjadi penurunan. Artinya memang penerapan PSBB yang tentunya mensyaratkan protokol kesehatan tidak berjalan.”

”Sehingga asumsinya itu juga terjawab oleh riset kita selanjutnya,” sambungnya. “Bahwa yang melakukan PSBB lebih dari 50 persen itu gagal menerapkan karena penurunan kurang.”

Riset Denny JA sendiri sebelumnya bukan sekadar survei opini publik atas virus corona. Riset ini bertujuan mengolah data sekunder dari tiga sumber terpercaya, yakni dari Worldometers data dunia virus corona, Singapore University of Technology and Design, dan berbagai hasil riset lainnya.

Hasilnya, Denny JA mendapat tiga kesimpulan dari riset tersebut. Pertama, 99 persen kasus virus corona akan selesai sebelum vaksin untuk virus itu ditemukan.

Kedua, Indonesia masuk Kategori B atau negara menengah dari sisi kecepatan menyelesaikan kasus virus corona. Kesimpulan kedua ini dengan asumsi aneka protokol kesehatan yang digariskan WHO dan pemerintah, seperti jaga jarak, bekerja dari rumah, larangan mudik dan sebagainya dipenuhi.

Kemudian kesimpulan ketiga adalah Indonesia dan dunia terbebas 100 persen terbebas dari virus corona ketika vaksin atas virus itu ditemukan. Rentang waktu penemuan vaksin diperkirakan sekitar Mei-Juli 2021.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait