Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra mengatakan jika seluruh maskapai di dunia menghadapi masalah yang sama, bukan hanya maskapainya.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 01 Juli 2020 - 14:46 WIB
WowKeren - Industri penerbangan mengalami babak belur akibat pandemi COVID-19. Tak hanya secara global namun juga di Tanah Air.
Untuk memulihkan bisnis penerbangan seperti sebelum terjadi pandemi, hal itu akan cukup memakan waktu. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra.
Irfan mengatakan jika industri penerbangan baru akan pulih akhir 2022 nanti. Ia mengatakan jika hal ini merupakan tantangan terbesar bagi industri penerbangan.
"Para analis industri penerbangan tampaknya sepakat bahwa pemulihannya hanya akan kembali pada akhir 2022," kata Irfan dilansir Antara, Rabu (1/7). "Jadi, kami mesti berhadapan dua setengah tahun lagi untuk situasinya membalik seperti sebelum COVID-19. Ini tantangan yang paling besar."
Bukan hanya Garuda, ia mengatakan jika seluruh maskapai di dunia menghadapi masalah yang sama. Terkait pemulihan tersebut, Garuda akan melakukan penyesuaian dan percepatan.
"Bagaimana proses pemulihan kami percepat," lanjut Irfan. "Karena saya pikir tidak ada satu pun maskapai udara di dunia ini yang mampu melihat dan bertahan dengan kondisi ini dan harus menunggu sampai dua tahun ke depan."
Menurut Irfan, banyak maskapai yang menyatakan kebangkrutan, karena itu merupakan pilihan yang sangat masuk akal pada hari ini. Ia mengakui jika bisnis penerbangan sudah mulai ada pergerakan seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial. Namun, hal itu masih sangat jauh jika dibandingkan sebelum pandemi COVID-19 menyerang.
"Boleh dikatakan dua sampai tiga pekan terakhir ini mulai ada pergerakan cukup positif," jelas Irfan. "Tapi masih jauh ke arah kondisi sebelum pandemi COVID-19."
Lebih lanjut, ia menyebut jika pendapatan maskapai yang dipimpinnya itu anjlok hingga 90 persen. Selain itu, pihaknya juga terpaksa mengandangkan 70 persen armadanya.
Sementara itu, INACA menyebut jika PHK massal di industri penerbangan Indonesia yang sesungguhnya belum benar-benar terjadi. "Setahu saya sebagai besar hanya yang kontrak, yang kontraknya habis nggak diperpanjang lagi," kata dia dilansir CNBC Indonesia, Rabu (1/7).
(wk/zodi)