Dokter Bius Kena COVID-19, RSD Tidore Setop Operasi
Pixabay
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pihak RSD Tidore Kepulauan mengatakan meski ada dokter kandungan atau bedah, namun tetap saja operasi tidak akan bisa dilakukan jika tidak ada dokter bius.

WowKeren - Rumah Sakit Daerah (RSD) Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, terpaksa menunda kegiatan operasi untuk para pasiennya. Hal ini merupakan buntut dari adanya dua orang dokter anestesi atau bius yang terkena kasus COVID-19.

Dua orang dokter itu kini tengah menjalani karantina. Direktur RSD Tidore Kepulauan dr. Fahrizal Maradjabessy mengatakan jika keberadaan dokter bius sangatlah penting dalam kegiatan operasi. Sebab, meskipun ada dokter kandungan atau bedah, namun tetap saja operasi tidak akan bisa dilakukan jika tidak terdapat dokter anestesi.

"Ini kan dokter bius. Sebenarnya operasi bisa kalau bius itu bius lokal," kata Fahrizal melalui keterangannya seperti dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (2/7). "Kalau dokter anestesi ini kan bius umum. Jadi biar dokter bedah atau dokter kandungan ada, (tapi) memang tidak bisa dilakukan operasi, karena siapa mau bius kalau dokter (anestesi) tidak ada."

Sejak sejak Selasa (30/6), satu dokter yang berasal dari Ternate sudah dinyatakan positif COVID-19. Lalu satu dokter lainnya dinyatakan reaktif berdasarkan hasil rapid test. Dokter ini berasal dari Tidore.


Untuk dokter yang berasal dari Tidore ini, Fahrizal menjelaskan jika dokter tersebut sudah melakukan tes PCR dan kini menunggu hasilnya. "Insyaallah Jumat hasilnya sudah bisa keluar," sambung Fahrizal.

Lebih jauh, ia menyebut jika dokter bius memang menjadi pihak yang paling rawan tertular virus corona. Hal ini berkaitan dengan bagaimana proses bius dilakukan. Saat memasukkan selang ke dalam mulut pasien, mau tidak mau akan ada refleks batuk.

"Karena waktu bius itu lihat dalam mulut dan dimasukkan selang," lanjut Fahrizal. "Makanya ada refleks pasien batuk, sehingga paling rentan tertular."

Terkait kapan ruang operasi akan kembali dibuka, Fahrizal belum bisa memastikan. Sebab, pihak rumah sakit harus mencari dokter pengganti untuk sementara waktu, yang mana jumlah dokter ini pun juga terbatas. "Bahkan sudah komunikasi dan digoda dengan insentif yang akan dinaikkan dan uang berapapun tapi tidak bisa," paparnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts