Jokowi Disebut Kangen Kritikan Fahri Hamzah
Instagram/jokowi
Nasional

Presiden Jokowi bertemu dengan Fahri Hamzah dan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Gelora pada Senin (20/7). Sekretaris Jenderal DPN Gelora, Mahfudz Sidiq, pun menceritakan kisah unik di pertemuan tersebut.

WowKeren - Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Gelora bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada Senin (20/7) kemarin. Pertemuan partai besutan Fahri Hamzah dengan sang Presiden rupanya menyisakan kisah unik.

Jokowi disebut kangen dengan kritikan Fahri yang kini sudah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gelora. Semenjak Fahri tidak lagi menjadi wakil rakyat di DPR RI, kritikannya kepada pemerintah sudah berkurang intensitasnya.

Dalam pertemuan itu, Jokowi disebut sempat bercerita tentang berat badannya yang turun hingga tiga kilogram. Jokowi juga mengungkapkan rasa kangennya terhadap suara Fahri. Cerita ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal DPN Gelora, Mahfudz Sidiq.

"Sementara Pak Fahri nampak makin gemuk. Kata Presiden, itu karena Pak Fahri sudah jarang bicara politik lagi. ‘Banyak yang kangen dengan suara Pak Fahri, saja juga kangen'," tutur Mahfudz menirukan Jokowi, dilansir VIVA pada Selasa (21/7).


Fahri sendiri juga memberikan penjelasan mengapa kini ia lebih jarang bersuara. Di hadapan Jokowi. Fahri mengaku dirinya kini tengah sibuk belajar berbisnis.

"'Saya belajar bisnis Pak. Jadi warga biasa lebih happy'," ujar Mahfudz menirukan Fahri. "Dan sepertinya banyak warga yang nambah berat badannya gara-gara lockdown. Tapi Pak Presiden justru turun berat badannya."

Meski diselingi dengan kisah unik, pertemuan tersebut tetap membahas masalah terkini. Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta, menyampaikan sejumlah masukan terkait penanganan pandemi corona yang hingga saat ini masih terus meningkat.

Menurut Anis, para ilmuwan perlu dikonsolidasi, sehingga pemerintah dapat mengambil keputusan yang didasarkan pada sains. Selain itu, hal ini juga akan membuat analisis para ilmuwan tidak ditelan mentah-mentah oleh publik, yang berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan tentang COVID-19.

Tak hanya itu, Anis juga menilai bahwa Jokowi perlu memasukkan analisis geopolitik dalam manajemen krisis pandemi corona. Menurut Anis, pandemi corona ini dapat digunakan sebagai sarana pertarungan eksistensi kekuatan- kekuatan global dan kawasan.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait