Kasus COVID-19 di Indonesia mencapai 141.370 orang hingga Hari Kemerdekaan pada Senin (17/8) ini. Epidemiolog pun menilai belum ada tanda-tanda pandemi akan menurun.
- Elvariza Opita
- Senin, 17 Agustus 2020 - 16:58 WIB
WowKeren - Senin (17/8) hari ini merupakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-75 tahun. Namun bersamaan dengan itu, Indonesia rupanya terus mencatatkan kenaikan jumlah kasus positif COVID-19, yang bahkan sampai hari ini menembus 141.370 pasien.
Dilansir dari infografis laporan harian Satuan Tugas Penanganan COVID-19, tercatat ada 1.821 kasus positif yang dikonfirmasi hari ini. Hampir sepertiganya dilaporkan oleh DKI Jakarta hingga 552 kasus, disusul Jawa Timur dengan 336 orang, dan Aceh dengan 168 pasien.
Krisis ini pun tak lepas dari pengamatan para pakar epidemiologi Indonesia. Bahkan belum lama ini Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) melayangkan surat untuk Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan menyebut bahwa hasil analisis menunjukkan belum ada tanda-tanda akhir dari pandemi virus Corona di Tanah Air.
"Hasil analisa epidemiologi menunjukkan bahwa periode pandemi yang berlangsung lebih dari lima bulan ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan di dua minggu terakhir bulan Agustus ini kasus terus meningkat di beberapa wilayah," ujar Ketua Umum PAEI, Hariadi Wibisono, dalam keterangan tertulisnya yang dikutip oleh CNN Indonesia pada Senin (17/8).
Terkait dengan alasannya, PAEI meyakini karena penerapan pedoman pengendalian COVID-19 belum dijalankan secara maksimal di lapangan. PAEI juga mengungkap beberapa kendala pengendalian pandemi, seperti perhitungan positivity rate yang tidak sesuai dengan metode.
Selain itu, PAEI juga menyoroti tes swab yang sudah dilakukan di Indonesia. Semestinya, imbuh Hariadi, tes dilakukan untuk orang yang datang ke rumah sakit dan mereka yang mengalami gejala mirip COVID-19 alih-alih pada komunitas masyarakat seperti saat ini.
"Diperlukan peningkatan jumlah suspek yang dites sesuai dengan metode surveilans yang komprehensif melalui contact tracing," terangnya. "Dan surveilans suspek atau probable untuk meningkatkan kinerja penemuan kasus secara tepat sasaran."
Pemeriksaan hingga pelaporan kasus positif juga "dipermasalahkan" oleh PAEI. "Kematian probable dan petugas kesehatan yang terinfeksi belum menjadi perhatian dalam pengendalian ini," imbuh Hariadi.
Hal ini, imbuh Hariadi, menunjukkan seberapa lemahnya peran pemerintah terhadap pengendalian pandemi COVID-19, tak hanya di pusat tetapi juga kepala daerah. "(Bila diteruskan) maka dapat dipastikan kondisi (pandemi) seperti ini akan berlangsung lebih lama," tegas Hariadi.
Selain itu, tercatat 1.355 pasien COVID-19 sudah sembuh sehingga total kasus mencapai 94.458 orang. Sementara ada 57 kasus yang dikonfirmasi meninggal dunia sehingga total kumulatifnya mencapai 6.207 orang.
(wk/elva)