Malaysia dan Filipina menemukan varian galur virus Corona baru, yakni D614G. Yang mengejutkan publik, varian tersebut menyebabkan virus sampai 10 kali lipat lebih menular daripada biasanya.
- Elvariza Opita
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 16:31 WIB
WowKeren - Wabah virus Corona diketahui belum mendapatkan solusi yang efektif. Dan di tengah krisis tersebut, Malaysia serta Filipina justru mengonfirmasi adanya mutasi pada virus penyebab COVID-19 yang menyebabkannya menjadi 10 kali lebih menular.
Keberadaan varian galur yang diberi nama D614G ini pun sontak menyedot perhatian masyarakat Indonesia karena dipicu kekhawatiran bisa ikut menjangkiti Tanah Air. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah perihal virus itu juga sudah masuk ke Indonesia.
Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto diperlukan pemeriksaan yang panjang untuk bisa mendeteksi galur apa yang ada di Indonesia. Untuk memeriksanya perlu dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS) COVID-19 asli Indonesia dalam jumlah besar.
"Masih belum bisa dipastikan," kata Wien, Selasa (18/8). "Karena perlu dilakukan WGS virus SARS-CoV-2 yang lebih banyak."
Namun demikian, bila merujuk pada data varian genom virus Corona yang sudah didaftarkan ke GISAID, maka semestinya varian galur tersebut belum masuk Indonesia. GISAID sendiri merupakan institusi milik Pemerintah Jerman dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang fokus mempelajari data genetika virus.
"Berdasarkan yang sudah di-submit Indonesia ke GISAID, mutasi D614G belum ditemukan di Indonesia," terang Wien, seperti dilansir dari CNN Indonesia. "Ada 15 strain yang sudah dikirimkan dan tercantum di laman GISAID, (yaitu) dari LBM Eijkman di Jakarta dan Institute of Tropical Disease (ITD) di Surabaya."
Namun tentu saja data itu bukanlah yang terbaru. Sebab data terakhir yang dikirimkan ke GISAID adalah bulan Mei 2020 lalu.
Namun terkait potensi virus SARS-CoV-2 galur D614G bisa mendominasi Indonesia atau tidak, Wien sendiri tak memberi jawaban gamblang. Hanya saja bila merujuk pada seberapa agresifnya virus ini, maka besar kemungkinan bisa ikut "menguasai" Indonesia.
Wien merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Ahli Biologi Komputasi dan Ahli Genetik, Bette Korber. Menurut penelitian Korber, varian D614G sebenarnya sudah mendominasi sejak beberapa waktu lalu meski baru benar-benar "meledak" belakangan ini.
Penelitiannya menunjukkan D614G selalu bisa mendominasi ketika ada versi asli virus dan varian tersebut di satu daerah yang sama. "Sebuah studi mengindikasikan, bahwa mutan D614G akan mendominasi apabila masuk ke suatu daerah tertentu, namun hal tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut," terang Wien.
(wk/elva)