Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 menyatakan jika Surabaya menjadi kota penyumbang kasus kumulatif virus corona terbanyak di Indonesia. Begini data dan penjelasannya.
- Ruth Meliana
- Rabu, 19 Agustus 2020 - 13:32 WIB
WowKeren - Penyebaran virus corona (COVID-19) di Indonesia dilaporkan masih tinggi. Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 lantas mengungkapkan data terbaru terkait virus corona, tepatnya adalah jumlah kasus kumulatif terbanyak di Indonesia.
Hingga Rabu (19/8) siang, sebanyak 143.043 orang telah terinfeksi virus corona di Tanah Air. Dari jumlah tersebut, 96.306 pasien dinyatakan sembuh dan 6.277 orang meninggal dunia.
Anggota tim pakar Satgas COVID-19, Dewi Nur Aisyah memaparkan ada 20 wilayah dengan kasus kumulatif terbanyak di Indonesia. Sebanyak 20 wilayah tersebut berasal dari kota-kota semua dan bukan dari kabupaten, dengan menyumbangkan 53 persen dari keseluruhan kasus COVID-19 di Tanah Air.
”Dari 20 wilayah dengan kasus kumulatif terbanyak kota-kota daripada kabupaten,” kata Dewi di BNPB seperti dilansir dari Kumparan, Rabu (19/8). “Ternyata dari 20 itu menyumbangkan 53 persen dari seluruh kasus positif vorona di Indonesia.”
Dewi menjelaskan jika hal tersebut disebabkan karena penduduk di kota lebih pada dari desa. Selain itu, mobilitas manusia di kota juga lebih tinggi sehingga virus corona lebih cepat menyebar.
Berdasarkan laporan Satgas COVID-19 hingga 16 Agustus, Surabaya dinyatakan sebagai kota penyumbang kasus virus corona terbanyak di Indonesia. Total, Kota Pahlawan ini mencatatkan 10.800 kasus virus corona.
Kota selanjutnya adalah Jakarta Pusat dengan menyumbang 7.535 kasus virus corona. Kemudian disusul Kota Semarang di posisi ketiga, dengan jumlah 6.531 kasus corona.
“Jika dihitung dengan perbandingan 100 ribu penduduk Jakarta Pusat menjadi daerah dengan incidence rate tertinggi,” jelas Dewi. “Medan yang secara kumulatif nomor 10 apabila dibanding 100 ribu penduduk nomor 43.”
”Palembang turun ke nomor 40 dan Kota Depok turun ke nomor 68, jauh sekali dari jumlah kumulatif,” sambungnya. “Artinya jumlah penduduknya padat.”
Dewi menjelaskan salah satu faktor penyebab tingginya kasus virus corona juga dipengaruhi oleh jumlah tes. Selain itu, faktor kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 juga sangat mempengaruhi jumlah kasus.
(wk/lian)