Lembaga Survei Indikator merilis hasil jajak pendapat yang diikuti pemuka opini hingga sejumlah tokoh seputar penanganan pandemi virus corona di Indonesia. Ini hasilnya.
- Ruth Meliana
- Kamis, 20 Agustus 2020 - 18:52 WIB
WowKeren - Indonesia telah mencatatkan total 147.211 kasus virus corona hingga Kamis (20/8). Tingginya kasus COVID-19 di Indonesia juga telah membuat ahli epidemiologi membongkar penyebab penanganan pandemi virus corona di Tanah Air yang seolah “macet” karena masalah birokrasi.
Selain epidemiolog, Lembaga Survei Indikator juga telah melakukan jajak pendapat seputar penanganan pandemi di Indonesia. Survei ini diikuti oleh pemuka opini dan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang di Indonesia. Hasil survei tersebut telah dirilis pada Kamis (20/8).
Adapun dalam survei ini, para responden diminta pendapatnya seputar berbagai isu yang ada selama pandemi. Salah satunya adalah terkait efektivitas rapid test.
Mengejutnya, sebagian besar responden menyatakan jika rapid test untuk mendeteksi COVID-19 selama ini tidak efektif. Total ada 56,9 persen responden yang menjawab jika rapid test sama sekali tidak efektif dalam menekan laju penyebaran virus corona.
”Mayoritas, di atas 50 persen, menyatakan rapid test tidak efektif sama sekali,” ungkap Direktur Eksekutif Survei Indikator Burhanuddin Muhtadi dalam paparan secara virtual, seperti dilansir dari Kumparan pada Kamis (20/8). “Total ada 56,9 persen elite yang menganggap rapid test ini tidak efektif.”
Berdasarkan hasil survei, hanya 3,3 persen responden saja yang menilai rapid test sangat efektif dan 39,1 persen menilai cukup efektif. Sedangkan 40,8 persen responden menilai rapid test kurang efektif dan 16,1 persen menilai sama sekali tidak efektif.
Meski demikian, responden dalam survei ini menilai jika protokol kesehatan pencegahan COVID-19 yang diterapkan sudah efektif. Protokol ini meliputi masyarakat diwajibkan memakai masker, menjaga jarak, hingga rajin membersihkan tangan saat beraktivitas, khususnya di luar rumah.
“Soal protokol kesehatan, elite menilai efektif,” kata Burhanuddin. “Jadi opini elite kita betul-betul jernih. Soal rapid test mereka anggap tidak efektif.”
Sebanyak 26,3 persen elite yang menilai protokol kesehatan sangat efektif dan 61,2 persen lainnya menilai cukup efektif. Sedangkan 10,9 persen elite menilai hal itu kurang efektif dan 1,6 persen lainnya menilai tidak efektif.
(wk/lian)