Sebuah studi menunjukkan bahwa 83 persen tenaga kesehatan mengalami burnout syndrome sedang dan berat selama pandemi COVID-19. Burnout syndrome yang dialami tenaga kesehatan memiliki implikasi jangka panjang.
- Nidya Putri
- Senin, 07 September 2020 - 15:01 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) di Indonesia masih belum terlihat ujungnya. Hal ini selaras dengan bertambahnya kasus baru tiap harinya.
Setelah lebih dari 6 bulan berperang melawan COVID-19, para tenaga medis kini mengalami burnout syndrome atau keletihan mental. Burnout syndrome sendiri telah menjadi masalah kesehatan jiwa yang banyak mengganggu kinerja para tenaga kesehatan di masa pandemi COVID-19.
Sebuah studi yang beberapa waktu lalu dilakukan oleh Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkapkan, 83 persen tenaga kesehatan mengalami burnout syndrome sedang dan berat selama pandemi COVID-19. Ketua Tim Peneliti yang juga dokter spesialis okupasi Dewi Soemarko mengatakan, burnout syndrome yang dialami tenaga kesehatan memiliki implikasi jangka panjang.
Dewi menjelaskan apabila seorang tenaga kesehatan merasakan keletihan secara emosional, imbasnya adalah kehilangan motivasi yang jelas untuk bekerja. "Kalau dia kehilangan rasa percaya diri bagaimana dia mau melakukan suatu pekerjaan itu dengan baik dan benar. Itu bahaya sekali," terangnya dalam temu media secara virtual dilansir liputan6.com, Senin (7/9). "Jadi implikasi di masa akan datang, yang kita maksud adalah kinerja dari tenaga medis."
Dalam studi yang dilakukan Dewi dan timnya ditemukan bahwa sebanyak 82 persen tenaga kesehatan mengalami burnout syndrome tingkat sedang selama masa pandemi COVID-19. Sementara 1 persennya mengalami burnout syndrome tingkat berat.
Burnout syndrome sendiri merupakan sebuah sindrom psikologis akibat respon kronik terhadap stresor atau konflik dengan tiga gejala yang umum seperti keletihan emosi, kehilangan empati, dan berkurangnya rasa percaya diri.
"Begitu dalam posisi moderate atau sedang, mereka harus dibantu. Jangan sampai jatuh ke keadaan yang berat," jelasnya. "Kalau sudah jatuh ke keadaan yang berat jadi lebih susah menolongnya dan perlu psikiater."
Sependapat, anggota tim peneliti lainnya, dokter Ray W. Basrowi mengatakan bahwa efeknya bisa berdampak juga pada sistem layanan kesehatan di Indonesia. "Untuk jangka panjangnya bisa perpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan di bangsa ini," katanya.
(wk/nidy)