DPR Nilai Fachrul Razi Tidak Cocok Jadi Menag Tapi Menko Polhukam, Kenapa?
Nasional

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai sosok Fahrul Razi sama sekali tidak cocok menjadi Menteri Agama, tetapi seharusnya menjadi Menko Polhukam saja. Ini alasannya.

WowKeren - Komentar Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi soal agen good looking telah menimbulkan kontroversi. Akibatnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ikut memprotes pernyataan tersebut saat menggelar rapat terbatas bersama Menteri Fachrul.

Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PAN, Ali Taher menyatakan kecewa dengan pernyataan tersebut. Saking kecewanya, Ali memprotes Fachrul dengan emosional dan terdengar seperti menangis soal komentar radikalisme.

Ali bahkan secara blak-blakan menyebut sosok Fachrul sama sekali tidak cocok menjadi Menteri Agama. Menurutnya, Fachrul lebih tepat jika menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam).

”Tanpa ingin mengecilkan Kemenag, tidak sama sekali,” kata Ali dalam rapat di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa (8/9). “Tetapi saya bicara soal cek and balance, maka saya hanya ingin bicara bahwa Pak Menteri ini cocoknya jadi Menteri Pertahanan dan Keamanan, menjadi Menteri Menko Polhukam ketimbang Kementerian Agama.”


”Apalagi saat terakhir, Pak Menteri, mohon maaf, ini kedua kali bicara radikalisme,” sambungnya. “Pak Menteri Agama gagal paham mengenai fungsi-fungsi agama dan fungsi pendidikan di Kemenag Republik kita yang tercinta ini.”

Lebih lanjut Ali mengaku sangat hancur saat mendengar Fachrul menyebut jika radikalisme di masjid biasa disusupi oleh good looking-hafiz. Menurutnya, komentar itu juga sangat menyinggung perasaan setiap guru ngaji hingga para ustaz di Indonesia.

”Waktu begitu Pak Menteri mengatakan bahwa para guru ngaji, kemudian para ustaz itu dicurigai sebagai bentuk-bentuk awal dari radikalisme,” ungkap Ali. “Perasaan terganggu sebagai seorang beragama, perasaan yang terkoyak perasaan yang terbubuh keimanan saya, perasan terganggu seperti gelas yang pecah, seolah-olah selama ini kita salat kita ngaji kita berbuat sesuatu seperti tidak ada arti apa-apa.”

”Saya membaca itu (Al-Qu'ran) air mata saya keluar kemudian saya teringat menteri agama. Kok tega menyatakan bapak ustaz dan guru ngaji itu adalah bibit-bibit radikalisme,” lanjutnya. “Sampai saya bertanya, Pak Menteri Agama Islam atau bukan. Saya mohon maaf perasaan suudzon terhadap seseorang tidak boleh sebenarnya, tapi perasan tak enak.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait