Salah satu persoalan sulitnya pengembangan energi panas bumi adalah biaya yang mahal yang mana hal ini membuat industri pengembangan energi panas bumi menjadi sulit bersaing.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 08 September 2020 - 20:19 WIB
WowKeren - Indonesia pada dasarnya memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar. Salah satunya adalah panas bumi atau geothermal. Namun sayangnya, pengembangan ini masih sulit dilakukan di RI.
Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. Penyebabnya pun tidak hanya satu namun beberapa faktor. Ia mengatakan jika faktor ekonomi, sosial, hingga persoalan teknis lainnya cukup menjadi pengganjal mengapa pengembangan energi geothermal di RI belum maksimal.
Padahal, energi panas bumi mampu membantu mengejar target bauran energi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Dilihat dari faktor ekonomi, pengembangan geothermal memakan biaya yang tinggi.
"Cost pengembangan geothermal di Indonesia relatif tinggi," kata Arifin dalam acara Digital Indonesia International Geothermal Convention 2020, Selasa (8/9). "Bukan hanya jika dibandingkan dengan negara lain, tapi juga dibandingkan dengan jenis energi baru terbarukan lainnya di domestik."
Tak ayal, biaya yang mahal ini membuat industri pengembangan energi panas bumi menjadi sulit bersaing dengan energi terbarukan yang lainnya. Kendati demikian, ini bukanlah akhir dari segalanya. Sebab, pemerintah tengah mempersiapkan inovasi kebijakan terkait energi panas bumi.
Sementara itu, kapasitas PLTP di Indonesia saat ini sudah mencapai 2,1 Gigawatt. Jumlah yang melimpah ini menjadikan Indonesia sebagai produsen panas bumi nomor 1 di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan di tingkat dunia, posisi Indonesia hanya satu tingkat berada di bawah Amerika Serikat yang menduduki peringkat pertama.
"Kita ketahui di sini bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi kapasitas di Indonesia ini sekarang ini 2,1 Gigawatt," kata Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Ida Nuryatin saat webinar yang diselenggarakan dan ditayangkan di Youtube Katadata, Jumat (28/8). "Kita ini peringkat 1 di ASEAN dan nomor 2 di dunia setelah Amerika."
(wk/zodi)