Pakar Komunikasi Analisis Gaya Bicara Ahok Saat Bongkar Aib Pertamina
Instagram/basukibtp
Nasional

Ahok baru saja memicu kontroversi melalui pernyataannya setelah ia blak-blakan membongkar borok Pertamina. Hal ini mendapatkan tanggapan dari Pakar komunikasi.

WowKeren - Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok tengah menjadi perbincangan masyarakat luas setelah dirinya secara blak-blakan membongkar aib Pertamina. Akibat pernyataannya, Presiden Joko Widodo bahkan didesak untuk mencopot jabatan Ahok dari Komisiaris Utama (Komut) PT Pertamina.

Pasalnya, banyak pihak yang menilai jika Ahok tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai Komut dengan baik. Polemik tentang pernyataan Ahok ini kemudian mendapatkan tanggapan dari pakar komunikasi.

Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Akhyar Anshori menganalisis pernyataan Ahok tersebut dari sisi komunikasi. Ia kemudian menyinggung sejumlah tugas Ahok yang tertera dalam dokumen tentang Dewan Komisaris Pertamina per 31 Desember 2018.

Dalam dokumen tersebut, Ahok memiliki tugas sebagai pengawas hingga pemberi nasihat kepada jajaran direksi Pertamina. Selain itu, Ahok juga mengemban kewajiban untuk selalu memantau pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik.


Akhyar lantas menjelaskan mengenai hasil analisis yang telah ia lakukan dari dokumen itu dan pernyataan Ahok. Menurutnya, Ahok tidak menjalankan tugasnya sebagai Komut dengan baik.

Pasalnya, Ahok seharusnya mampu menyelesaikan permasalahan di internal Pertamina dan bukan malah membeberkannya ke publik. Akhyar juga turut menyoroti cara berbicara Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Ia menilai jika etika komunikasi Ahok tidak mencerminkan kesantunan masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dimana Ahok terkesan berusaha menutupi kelemahannya lewat bicara dengan nada-nada kasar.

”Jika melihat dokumen di atas, jelas Ahok tidak menjalankan fungsinya sebagai Komisaris Utama. Di mana dia harusnya mampu bertindak atas semua kekeliruan yang terjadi di Pertamina,” kata Akhyar seperti dilansir dari Detik, Rabu (16/9). “Berbicara dengan nada-nada kasar, bagi sebagian masyarakat kita diartikan bagian dari menutupi kelemahan.”

”Bukan frustrasi karena tidak mampu mengubah manajemen Pertamina, tapi ketidakmampuan Ahok pribadi sebagai komisaris utama yang bertugas sebagaimana dokumen di atas,” sambungnya. “Seharusnya, sebagai komut dia harusnya menyampaikan prestasi selama memimpin, bukan malah membongkar kebobrokan yang ada.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts