Kementerian BUMN menyebutkan Garuda Indonesia sebagai salah satu perusahaan pelat merah paling terdampak oleh pandemi COVID-19. Namun ternyata ada alasan lain di balik situasi itu.
- Elvariza Opita
- Selasa, 20 Oktober 2020 - 16:33 WIB
WowKeren - Kementerian BUMN membeberkan sejumlah perusahaan pelat merah yang babak belur dihajar wabah COVID-19. Salah satunya adalah Garuda Indonesia, sebagaimana bidang pariwisata memang dibuat porak-poranda oleh wabah COVID-19.
Namun ambyarnya kinerja Garuda Indonesia ternyata bukan cuma karena diguncang pandemi COVID-19. Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo, menyatakan perusahaan yang sempat dipimpin Ari Ashkara itu sudah digerogoti oleh sebuah penyakit masa lalu yang memperburuk situasi kekinian.
Yang dimaksud olehnya adalah harga mesin-mesin pesawat yang digunakan maskapai pelat merah tersebut. "Garuda kita tahu punya penyakit masa lalu yaitu mahalnya mesin-mesin pesawat di masa lalu," ujar Kartika di Capital Market Summit & Expo 2020, Selasa (20/10).
Oleh karenanya, pandemi COVID-19 diharapkan bisa menjadi momentum agar Kementerian BUMN melakukan renegosiasi kontrak yang pernah dilakukan Garuda Indonesia. Harapannya renegosiasi ini bisa mengatasi beban keuangan perusahaan.
Pandemi COVID-19 ini juga diharapkan bisa menjadi momentum untuk merestrukturisasi keuangan Garuda Indonesia secara fundamental. "Kita ambil kesempatan COVID ini untuk merestrukturisasi Garuda secara menyeluruh," tegas Kartika, dikutip dari Detik Finance.
Kementerian BUMN sendiri menarget kondisi perusahaan yang jauh lebih sehat pasca pandemi COVID-19 berlalu. Oleh karena itu, selain melakukan restrukturisasi perusahaan, Garuda Indonesia juga tengah merelokasi rute penerbangan serta memperbaiki berbagai kekurangan yang ada.
Sebab COVID-19 tak mesti diasosiasikan sebagai tantangan tetapi juga peluang. "Sehingga diharapkan pasca COVID nanti Garuda lebih sehat dibandingkan Garuda pre-COVID," jelas Kartika.
Selain Garuda Indonesia, ada beberapa BUMN lain yang dinilai "kacau" karena pandemi COVID-19. "Di energi sebagai contoh PLN, Pertamina, memang penurunan dari konsumsi bahan bakar maupun konsumsi listrik sangat terasa jauh dibandingkan dengan kondisi perekonomian yang normal. Dan kemudian juga kepada sektor infrastruktur, khususnya terkait dengan infrastruktur transportasi, di sini ada perusahaan-perusahaan seperti Kereta Api Indonesia, Jasa Marga, Waskita yang mengelola jalan tol, ini terdampak secara signifikan," terang Kartika.
(wk/elva)