Seruan untuk memboikot produk Prancis muncul setelah Presiden Macron dinilai menghina Islam. Lantas, apa keuntungan dan kerugiannya bagi Indonesia? Berikut penjelasan beserta contoh produk Prancis.
- Ruth Meliana
- Senin, 02 November 2020 - 12:27 WIB
WowKeren - Nama Emmanuel Macron belakangan ini menjadi sosok kontroversial yang paling disorot. Pasalnya, Presiden Prancis tersebut telah memberikan pernyataan yang dinilai menghina Islam. Presiden Macron telah menyatakan perang terhadap “'separatisme Islam” yang diyakininya telah mengambil alih sejumlah komunitas muslim di Prancis.
Macron juga menegaskan dirinya tidak akan mencegah penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satir Charlie Hebdo. Padahal, karikatur tersebut telah mendapatkan protes keras dan kemarahan dari masyarakat Muslim karena dinilai menghina agama mereka.
Sontak, pernyataan Macron tidak hanya memicu kemarahan dari sejumlah negara Muslim di dunia, namun juga seruan untuk memboikot produk Prancis. Sebut saja sejumlah negara Timur Tengah seperti Turki, Kuwait, Maroko, Bangladesh, dan Qatar yang telah berjanji akan memboikot produk-produk asal Prancis.
Seruan boikot juga menggema di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyerukan agar umat Islam melakukan aksi boikot sebagai tanggapan atas pernyataan Macron. Tak hanya itu, MUI juga menuntut agar Presiden Macron segera meminta maaf atas pernyataan kontroversialnya tersebut.
"Dengan demikian, Presiden Emmanuel Macron hanya memperhatikan kepentingannya saja," tulis MUI dalam surat edarannya pada Jumat (30/10). "Dan tidak peduli kepada kepentingan dan keyakinan masyarakat dunia lainnya terutama umat Islam yang jumlahnya lebih dari 1,9 miliar di muka bumi ini."
"Memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis serta mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia. Untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada Pemerintah Prancis," lanjut MUI. "Serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar Republik Indonesia di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia."
Lantas, apa keuntungan dan kerugian aksi boikot produk Prancis bagi Indonesia? Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati menilai aksi boikot atas barang-barang Prancis yang dilakukan Indonesia tidak akan berdampak signifikan pada perdagangan negara itu.
Pasalnya, nilai impor Prancis ke Indonesia sangatlah kecil jika dibandingkan dengan negara lain seperti Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Australia, dan India. Komoditas impor terbesar Indonesia dari Prancis adalah pesawat dan komponennya. Sedangkan produk makanan dan barang mewah seperti tas, kebanyakan produksinya sudah dibuat di dalam negeri.
"Untuk produk-produk yang sifatnya lifestyle hanya merek saja, tapi produksinya di Indonesia. Jadi tidak signifikan buat Indonesia dan Prancis karena porsinya enggak besar," jelas Enny Sri Hartati seperti dilansir dari BBCIndonesia, Senin (2/11). "Kalau Prancis perkiraan saya paling impornya tidak sampai 5 persen. Berbeda seperti Tiongkok sampai 33 persen."
Selain itu, produk Prancis yang masuk ke Indonesia terbilang mahal sehingga sasaran konsumen kebanyakan merupakan masyarakat menengah atas. Enny menyebut masyarakat menengah atas merupakan golongan yang relatif teredukasi sehingga tidak terlalu terpengaruh dengan situasi yang terjadi di Prancis.
Sementara itu, Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menyebut efek boikot dapat mempengaruhi hubungan dagang antara Indonesia dan Prancis. Ia menjelaskan impor barang dari Prancis sendiri sudah menurun 14,5 persen yoy per Januari sampai Agustus 2020 sebelum seruan boikot menggema. Rencana boikot tentunya dapat menciptakan penurunan defisit perdagangan antara Indonesia dengan Prancis.
Meski demikian, Bhima mengaku tidak mempermasalahkan jika aksi boikot ingin dilakukan. Terlebih, segmentasi produk Prancis yang dijual di pasar Indonesia rata-rata adalah high end market dengan pasarnya kelas atas, seperti tas dan baju branded. Sedangkan barang impor untuk kelas menengah dan bawah dari Prancis adalah produk makanan minuman. Untuk melakukan aksi boikot, Bhima menyarankan agar diikuti dengan substitusi produk lokal.
"Jadi kalau mau ambil peluang dari boikot produk Prancis, harus jelas segmentasinya yang akan di substitusi oleh produk lokal," terang Bhima. "Soal fashion sebenarnya mulai ada pergeseran ke brand-brand lokal yang kualitasnya bagus. Misalnya ada produk fashion lokal yang disebut Local Pride, itu harganya mahal, high quality dan kualitas ekspor."
Seruan boikot produk di Prancis juga dianggap dapat mempengaruhi hubungan dagang kedua negara di sektor penerbangan. Alasannya, maskapai komersial di Indonesia saat ini masih menggunakan pesawat terbang buatan pabrik asal Prancis, yakni Airbus. Namun, Indonesia dinilai tidak akan mengalami kerugian jika melakukan boikot terhadap Airbus.
"Ya enggak lah (Indonesia rugi). Menurut saya aman kalau dari sisi bisnis. Ya Airbus itu kan konsorsium 3 negara Prancis, Jerman dan Inggris," ujar pengamat penerbangan Arista Atmadjati dilansir dari Kumparan, Minggu (11/2). "Jadi bisa saja via Jerman atau Inggris bila keadaan darurat sih."
Impor Indonesia dari Prancis yang terbesar adalah pesawat dan komponen spare parts. Selain itu, ada juga produk susu, mobil, obat-obatan, mesin elektrik dan komponen. Ada juga bahan kimia organik, ekstrak resinoid untuk parfum dan kosmetik, pakan ternak, optik, plastik dan produk plastik, kimia, serat kayu (pulp wood), dan makanan olahan.
Adapun sejumlah merk terkemuka produk Prancis yang di impor ke Indonesia adalah Danone (kebutuhan rumah tangga), Total (minyak), Accor (jaringan hotel), Airbus (pesawat), dan Michelin (kendaraan). Selain lima perusahaan itu, beberapa merk kenamaan Perancis lainnya yang masuk ke Indonesia adalah Peugeot (otomotif), Renault (otomotif), Garnier (kosmetik), dan Loreal (kosmetik). Lalu ada pula Lacoste (fashion), Louis Vuitton (fashion), Citroen (otomotif), Doux (makanan), Chanel (fashion), Bic (alat tulis), dan BNP Paribas (keuangan).
(wk/lian)