Gelar Aksi Bela Nabi di Kedubes Prancis, FPI Cs Salat Berjamaah di Jalan Thamrin
Nasional

Aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Prancis di Jalan MH Thamrin Jakarta ini digelar untuk memprotes pernyataan Presiden Emmanuel Macron yang dinilai menyudutkan Islam.

WowKeren - Massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan sejumlah ormas Islam lainnya mendatangi Kedutaan Besar (Kedubes) Prancis pada Senin (2/11) hari ini. Massa terpantau tiba di depan gedung Kedubes Prancis di Jalan MH Thamrin sekitar pukul 11.18 WIB.

Aksi unjuk rasa ini digelar untuk memprotes pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menyudutkan Islam. Sebelum aksi dimulai, massa melaksanakan salat zuhur berjamaah di tengah Jalan MH Thamrin.

Azan dikumandangkan dari mobil komando milik FPI. Tersedia juga air di dekat mobil komando bagi massa mengambul wudhu.

Massa melaksanakan ibadah salat dengan menggunakan spanduk hingga karpet sebagai alas untuk bersujud. Setelah melangsungkan salat berjamaah, massa memanjatkan salawat dan doa bersama-sama.


Sementara itu, Tim Hukum FPI, Aziz Yanuar, mengungkapkan bahwa ormas-ormas Islam akan memberikan sejumlah tuntutan bagi Duta Besar Prancis di Indonesia. Di antaranya adalah menuntut Presiden Macron untuk meminta maaf kepada umat Islam. "Dan meminta agar tak mengulangi lagi terkait penistaan ini," ungkap Aziz dilansir CNN Indonesia.

Tak hanya itu, Aziz juga menjelaskan bahwa pihaknya menuntut pemerintah Prancis untuk tidak melindungi majalah satire Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad SAW. "Intinya, kita akan boikot terus, kita akan boikot produk Prancis. Bahwa perlakuan mereka tak dapat kita terima," pungkas Aziz.

Di sisi lain, Presiden Macron tengah menuai banyak sorotan usai menyebut Islam tengah mengalami krisis. Belakangan, ia mengaku dapat memahami jika umat Islam dikejutkan oleh karikatur Nabi Muhammad yang dimuat ulang oleh mingguan Charlie Hebdo.

Hal ini diungkap Macron dalam wawancara dengan saluran TV yang berbasis di Qatar, Al-Jazeera, untuk meredakan kemarahan umat Islam. Dalam wawancara itu, Macron memberikan pemaparan mengenai maksud ucapan sebelumnya dengan nada yang lebih lembut.

"Saya bisa mengerti bahwa orang bisa dikejutkan oleh karikatur itu, tetapi saya tidak akan pernah menerima bahwa kekerasan bisa dibenarkan," kata Presiden Macron pada Minggu (1/11). "Saya menganggap itu tugas kami untuk melindungi kebebasan kami dan hak-hak kami."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait