Vaksin Pfizer disebut-sebut memiliki efektivitas hingga 90 persen untuk mencegah COVID-19. Tak ayal jika kandidat vaksin yang satu ini ramai menjadi perbincangan
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 11 November 2020 - 17:08 WIB
WowKeren - Vaksin Pfizer disebut-sebut memiliki efektivitas hingga 90 persen untuk mencegah COVID-19. Tak ayal jika kandidat vaksin yang satu ini ramai menjadi perbincangan hingga dianggap sebagai "harapan cerah" di tengah pandemi.
Dalam pengembangannya, vaksin ini menggunakan cara yang berbeda dari kandidat lainnya. Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo, mengatakan vaksin corona Pfizer memiliki teknologi rekayasa genetika yang bertujuan melihat genom RNA virus.
"Nah nanti yang diberikan ke manusia itu sebetulnya mRNA dari spike," kata Ahmad dilansir Detik, Selasa (11/11). "Sehingga nanti itu saat masuk ke sel manusia itu, sel manusia itu sendiri kan nggak tahu ini tuh mRNA dari spike atau sel manusia, yang penting ada mRNA kan."
Dari sini, sel akan segera memproduksi protein spike. "Nah mereka langsung proses, akhirnya sel itu bisa memproduksi protein spike, nah ketika diproduksi akhirnya itu bisa menyalakan respons imun, atau antibodinya," lanjutnya.
Faktor ini yang membuat pengembangan vaksin yang menggunakan teknologi mRNA bisa dilakukan dengan lebih cepat. Ilmuwan hanya perlu membaca sequence genom terlebih dulu dan 3 minggu berselang bisa menghasilkan bahan genetik yang nantinya disuntikkan.
"Spike yang mana yang ternyata akan menimbulkan menjadi protein spike," lanjutnya menjelaskan. "Karena protein spikenya adalah inti, yang diperlukan virus untuk masuk ke manusia."
Berbeda dengan Pfizer, Sinovac menggunakan platform inactivated virus. Proses pengembangan ini lebih lama karena harus terlebih dahulu mengkultur virus.
"Kalau kita lihat membangun vaksin itu kita harus punya virus benerannya dulu kan," kata dia lagi. "Kita isolasi, itu nanti kita kultur, kita perbanyak di laboratorium, itu full virusnya, nah cuma kalau misalnya sebelum diinjeksikan bahaya kalau full virus."
(wk/zodi)