Angka COVID-19 Jabar Lampaui DKI, Didominasi Klaster Pesantren dan Rumah Tangga
Nasional

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Berli Hamdani melaporkan adanya lonjakan kasus COVID-19 di Jawa Barat yang melampaui DKI Jakarta. Lonjakan angka itu disebabkan klaster pesantren dan rumah tangga.

WowKeren - Jawa Barat melaporkan pertambahan kasus baru COVID-19 sebanyak 668 pada Rabu (11/11) kemarin. Angka ini melampaui penambahan kasus harian di DKI Jakarta, yakni 587 kasus.

Kenaikan angka tersebut rupanya disebabkan oleh klaster pondok pesantren dan rumah tangga. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Berli Hamdani. "Memang terjadi kenaikan yang signifikan termasuk berasal dari klaster-klaster tersebut," ujar Berli dilansir Detikcom, Kamis (12/11).

Tingginya penambahan kasus Corona di Jawa Barat belakangan ini berasal dari wilayah Bogor, Depok, Bekasi, dan Bandung. "Kalau kemarin-kemarin masih seputar BoDeBek kemudian di seputar Bandung itu juga agak meningkat akhir-akhir ini. Jadi masih di sekitaran situ aja, episentrumnya di BoDeBek sama Bandung dan kemungkinan hari ini begitu juga," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Harian Satgas COVID-19 Jawa Barat Daud Achmad mengatakan, masih mendalami darimana rincian kasus tersebut. "Masih kita dalami," ujarnya singkat saat dikonfirmasi.


Pada 9 November 2020, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan terjadi penambahan klaster di lingkungan pesantren dan di rumah tangga. Hal itu berdampak pada bertambahnya zona merah atau daerah yang memiliki kerawanan penularan COVID-19 yang tinggi.

"Dan hari ini dilaporkan dinamika klaster ada di pesantren, juga di rumah di rumah, hingga berita kurang baik zona merah di Jawa Barat bertambah dari 1 menjadi 3, yaitu Kota dan Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang," kata Emil, sapaannya, yang juga Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jabar.

Menurut Emil, munculnya klaster di pesantren ini mayoritas berasal dari orang yang keluar-masuk ke kompleks pesantren. Salah satunya adalah gurunya atau dari penyedia kebutuhan santri di pesantren.

"Kalau santrinya relatif mereka bermukim sehingga tidak banyak pergerakan," terang pria yang akrab disapa Kang Emil. "Mayoritas kasus pesantren datang dari mereka yang keluar masuk ke kompleks pesantren, salah satunya dari guru atau dari supplier atau pihak ketiga yang melakukan kegiatan di pesantren."

Sebelumnya, Satgas COVID-19 memperingatkan sejumlah daerah terkait ancaman kenaikan kasus usai libur panjang. Namun, hingga saat ini masih belum ada laporan yang menunjukkan adanya lonjakan kasus COVID-19 akibat liburan panjang pada akhir bulan Oktober lalu.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait