Sebagai langkah antisipasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan sejumlah pihak telah berkoordinasi untuk memasang kamera pengawas di sekitar sungai di Yogyakarta.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 13 November 2020 - 23:50 WIB
WowKeren - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan jika lahar hujan menjadi hal yang harus diwaspadai di tengah ancaman erupsi Gunung Merapi. Hal itu tak lepas dari kondisi cuaca Indonesia saat ini yang tengah terdampak La Nina.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, mengatakan berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akibat fenomena La Nina membuat musim hujan lebih banyak dari sebelumnya. Sehingga potensi banjir lahar menjadi hal yang perlu diwaspadai.
"Lahar hujan menjadi yang diperhitungkan tahun ini. Dapat info dari BMKG kita masuk ke la nina," kata Lilik melalui konferensi pers secara virtual, Jumat (13/11). "Artinya musim hujan 40 persen lebih banyak dibanding sebelumnya. Desember, Januari, Februari, dipertimbangkan banjir lahar."
Sebagai langkah antisipasi, maka BNPB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dan juga BPD Jawa Tengah telah berkoordinasi untuk memasang kamera pengawas di sekitar sungai Yogyakarta. Selain ancaman erupsi Merapi, potensi bencana lain juga perlu diwaspadai adalah pandemi COVID-19 dan La Nina.
Saat Merapi erupsi diprediksi akan menyemburkan awan panas. Kepala BPPTKG, Hanik Humaida menyampaikan jika lontaran awan panas tersebut bisa sejauh 5 kilometer. "Potensi yang ada saat ini kalau ada eksplosif, ada lontaran awan panas, jarak maksimal 5 KM itu untuk data aktivitas saat ini dan potensinya," ujarnya.
Terkait arah lemparan tersebut diperkirakan akan mengarah ke Kali Gendol bukaan bawah. Namun, potensi ini akan ditinjau ulang apabila ada kubah lava. "Kecepatan seberapa dan posisi kubah lava di mana, Ini sangat menentukan," ujarnya.
Sejak Kamis (5/11) pekan lalu, Merapi mencatat kenaikan aktivitas. "Kenaikan aktivitas ini berdasarkan data yang ada, baik itu dari pemantauan seismiknya, dari kimia dan beberapa hal terkait," pungkasnya.
Hanik menyebut secara data seismik, sampai Rabu (11/11), Gunung Merapi sudah melampaui erupsi yang terjadi pada 2006. Namun kondisinya masih lebih rendah daripada erupsi tahun 2010.
(wk/zodi)