Banyak Siswa Stres, Kualitas Pendidikan di RI Turun Drastis Imbas PJJ
Reuters
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Dari hasil kunjungan yang dilakukan Dinas Pendidikan ke sejumlah sekolah di Jatim, ditemukan beberapa kasus siswa yang stres karena terlalu lama tidak sekolah tatap muka.

WowKeren - Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi mengakui adanya penurunan pada kualitas pendidikan di Jatim. Hal ini berkaitan dengan pola pembelajaran jarak jauh atau PJJ.

Sejak pandemi menyebar Maret lalu, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengubah pola pembelajaran yang sebelumnya dilaksanakan secara tatap muka menjadi pola daring. Langkah ini diambil guna mencegah penularan virus corona.

Akibat kebijakan yang mendadak ini maka persiapan yang dilakukan juga minim. Alhasil, kondisi ini pun berdampak pada kualitas pembelajaran.

"Karena pembelajaran jarak jauh dilaksanakan secara mendadak, sehingga kesiapan baik sarana prasarana dan bahan ajar belum sepenuhnya siap dengan baik," kata Wahid dilansir Suara Surabaya, Kamis (19/11). "Sehingga dari hasil evaluasi beberapa bulan pasca dilaksanakannya PJJ, kualitas pendidikan menurun tajam."


Menurunnya kualitas PJJ dibebaskan banyak hal. Seperti diketahui, PJJ memang menyisakan seabrek persoalan. Salah satu kendala yang banyak dikeluhkan adalah tidak semua daerah terjangkau internet misalnya blank spot di daerah kepulauan, pegunungan, dan pedalaman.

Lalu, ditambah lagi dengan biaya kuota internet yang relatif mahal membuat PJJ ini banyak menyulitkan orang tua murid. Bahkan masih ada siswa yang belum mempunyai gawai untuk mendukung proses PJJ.

"Keterbatasan guru dan siswa dalam mengoperasikan teknologi digital maupun pengetahuan tentang aplikasi pembelajaran yang terbatas," ungkapnya. "Termasuk sarana prasarana seperti handphone yang tidak smartphone, dalam satu rumah hanya ada satu smartphone, dan daya serap siswa yang rendah untuk mata pelajaran tertentu."

Dari hasil kunjungan ke sejumlah sekolah di Jatim, ditemukan beberapa kasus siswa yang stres karena terlalu lama tidak sekolah tatap muka. "Kami ke Jember, ada anak SLB (Sekolah Luar Biasa) sampai menggunting rambutnya sendiri. Bahkan ada anak SLB yang setiap bangun tidur menangis karena merasa tidak disekolahkan orang tuanya," paparnya.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan kualitas pendidikan bisa membaik. Hal ini bisa terjadi ketika para guru, siswa, dan orang tua sudah terbiasa melakukan PJJ.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts