Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, menilai kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia sudah sangat parah dan terlambat. Namun masih ada alternatif solusi seperti ini.
- Elvariza Opita
- Senin, 21 Desember 2020 - 15:36 WIB
WowKeren - Indonesia tampaknya sedang dihadapkan dengan lonjakan besar-besaran kasus positif COVID-19. Namun situasi ini rupanya ditanggapi pesimis oleh pakar epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman.
"Pandemi kita tidak terkendali," ujar Dicky, Senin (21/12). "Dan ini sudah berlangsung bukan hanya 1-2 bulan, sudah lama."
Parameter pertama yang diamatinya adalah positivity rate alias rasio jumlah kasus positif dan tes COVID-19 yang dilaksanakan. Nilai positivity rate Indonesia saat ini nyaris 4 kali lipat standar dunia.
Kemudian ada sinyal pula bahwa jumlah angka kematian akibat COVID-19 di lapangan tiga kali lipat dari yang dilaporkan. Hal in, imbuh Dicky, adalah sinyal serius bahwa pemerintah gagal menekan kurva dan memutus transmisi COVID-19 demi mengendalikan pola penambahan eksponensialnya.
"Artinya sudah telat," tegas Dicky, dilansir dari Tempo. "Upaya-upaya kita sudah telat dan tertinggal jauh dari 4 minggu kecepatan virus ini menyebar."
Kendati demikian Dicky masih memberikan solusi yang bisa diterapkan untuk mengendalikan situasi sebelum benar-benar terlambat. Tak lain solusinya adalah menguatkan pelaksanaan 3T alias testing, tracing, dan treatment. Testing-nya harus dilakukan mengacu pada jumlah populasi dan eskalasi pandeminya.
"Ini harus mengarah dan diupayakan positivity rate di bawah 10 persen, bahkan 5 persen," pungkas Dicky. "Ini PR tidak mudah, perlu waktu 2-3 bulan dengan cakupan testing, tracing, karantina, isolasi yang konsisten."
Di sisi lain, berdasarkan data yang disampaikan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada Minggu (20/12) kemarin, kasus kematian mengalami pecah rekor mencapai 221 kasus dalam sehari. Selain itu kasus aktif COVID-19 Indonesia saat ini mencapai 15,5 persen atau 103.239 pasien. Sementara untuk penambahan kasus positif pada Minggu kemarin mencapai 6.982 orang dengan kasus sembuhnya 5.551 pasien.
(wk/elva)