Vaksin COVID-19 Bikin 'Ramalan' Puncak Wabah di RI Bergeser, Ini yang Terbaru Menurut IDI
BBC
Nasional
Vaksin COVID-19

Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih menilai distribusi vaksin bisa 'menggeser' prediksi puncak penyebaran wabah virus Corona, meski tetap tidak bisa diperkirakan kapan pandemi berakhir.

WowKeren - Hingga kini tidak ada epidemiolog yang mampu memprediksi kapan puncak pandemi COVID-19 Indonesia. Yang paling mendekati adalah perkiraan puncak wabah mungkin tercapai pertengahan 2021 mendatang.

Namun Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) ternyata punya pandangan yang berbeda. Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih menilai puncak penyebaran kasus COVID-19 akan terjadi pada Maret-April 2020 mendatang.

Prediksi yang "bergeser" ini tak lepas dari upaya intervensi pemerintah lewat distribusi vaksin COVID-19. Kendati demikian, Faqih mengaku pihaknya belum bisa memperkirakan kapan pandemi COVID-19 akan berakhir.

"Saya tidak yakin puncaknya Februari, namun saya berharap cepat. Mungkin puncak bisa bergeser ke Maret-April," terang Faqih, membuka opsi puncak bisa saja terjadi Februari, dalam sebuah webinar, Selasa (19/1).

Faqih pun mendorong para ahli untuk membuat model baru kurva epidemiologi. Pemodelan tersebut disusun berdasarkan perencanaan penanganan pandemi, seperti vaksinasi hingga penguatan protokol kesehatan.


Pada kesempatan yang sama, Faqih juga memberi pandangan soal kasus COVID-19 yang dalam waktu dekat bisa menembus angka psikologis 1 juta pasien. Menurut Faqih situasi ini bisa tercapai dalam 10 hari ke depan jika penambahan kasus hariannya konsisten di atas 10 ribu setiap hari.

Faqih pun mengaitkan penambahan kasus yang sampai belasan ribu per hari ini dengan sejumlah peristiwa yang terjadi sejak Desember 2020 kemarin. Mulai dari Pilkada sampai libur panjang, dijelaskan Faqih, dampaknya akan terlihat sampai setidaknya akhir Januari.

Meski demikian, Faqih mendorong masyarakat untuk tidak terlalu khawatir dengan krisis ini. IDI memastikan akan terus memperbaiki pelayanan kesehatan, yang tentu harus didukung dengan peningkatan kedisiplinan protokol kesehatan dari masyarakat juga strategi jitu pemerintah.

"Kami dengan Kemenko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) dan Kementerian Kesehatan mengakselerasi tenaga yang harus ada," tegas Faqih. "Bahkan kalau protokol kesehatan perlu direvisi, diperkuat, kita perbaiki."

Di sisi lain, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 baru membuka fakta baru yang cukup mengejutkan. Yakni perihal penambahan kasus mingguan yang terparah sepanjang pandemi COVID-19 di Indonesia, yakni mencapai hampir 30 persen.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts