Kurang Efektif, Ahli Tak Sarankan Screening COVID-19 Penumpang Kereta Gunakan GeNose
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Aat deteksi COVID-19 buatan anak bangsa, GeNose, diketahui menjadi salah satu alat yang digunakan sebagai screening COVID-19 penumpang kereta. Namun beberapa ahli mempertanyakan keefektifan alat tersebut.

WowKeren - Alat deteksi COVID-19 buatan anak bangsa, GeNose, diketahui menjadi salah satu alat yang digunakan sebagai screening COVID-19 penumpang kereta. Namun beberapa ahli mempertanyakan keefektifan alat yang mendeteksi COVID-19 lewat embusan napas ini.

Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan penggunaan GeNose sebagai skrining awal COVID untuk pelaku perjalanan merupakan hal yang tidak tepat. Hal ini karena tidak praktis dalam penggunaannya.

Selain itu, ia juga menyebut GeNose tidak bisa digunakan untuk active case finding atau penemuan kasus baru. "Walaupun GeNose sudah diteliti dan dikaji, tapi memang tidak praktis dalam penggunaannya, jadi memang tidak tepat, dan memang bukan sebagai active case finding," tutur Hermawan dikutip dari CNN, Sabtu (23/1).

Selain tak praktis, GeNose juga diketahui memiliki beberapa kekurangan. Alat ini memiliki beberapa kelemahan dalam mendeteksi virus corona. Pengetesan menggunakan GeNose pada seorang perokok atau seorang yang mengkonsumsi makanan berbau menyengat dapat mengurangi keefektifannya.

Selain itu, pengguna atau pasien yang akan menggunakan GeNose juga disarankan tidak mengkonsumsi apapun setengah jam sebelum tes pengetesan. "Kalau GeNose itu syaratnya tidak boleh merokok, makan dan minum yang menyengat, jadi ini bukan untuk screening awal, tapi untuk penelitian dalam kondisi tertentu," lanjut Hermawan.


Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane juga mengaku penggunaan GeNose tak terlalu disarankan. Ia mengatakan GeNose tidak tepat jika digunakan sebagai screening penumpang karena ada banyak kelemahan dari alat tersebut, di samping efektivitasnya yang menurun jika digunakan pada perokok.

"Ada risiko menularkan pada orang lain yang ada di belakangnya," kata Masdalina dikutip dari CNN, Sabtu (23/1). "GeNose belum menjadi standar dalam pengendalian, publikasi efektivitasnya juga belum rilis sampai saat ini, baru ada klaim sepihak saja dari peneliti."

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya mengumumkan pemerintah akan menggunakan GeNose buatan UGM di sejumlah stasiun kereta api di Indonesia mulai 5 Februari 2021. Namun belum diketahui apakah tes menggunakan GeNose nantinya akan menggantikan rapid test antigen yang saat ini masih menjadi standar perjalanan kereta api.

Kemenhub masih menunggu persetujuan dari Satgas Coivd-19 dan masih perlu berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Setelah penggunaan di stasiun kereta api, selanjutnya penggunaan GeNose disebut Kemenhub akan diperluas ke bandara dan pelabuhan.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Marives) Luhut Binsar Pandjaitan pada 23 Januari lalu berkesempatan mencoba menjajal alat tes tersebut. Dalam pernyataannya, Luhut memastikan bahwa GeNose sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan.

Luhut juga mengapresiasi GeNose sebagai alat deteksi COVID-19 dengan kelebihan seperti cepat, harga yang relatif lebih murah dengan akurasi di atas 90 persen. Luhut hanya menyarankan agar plastik yang dipakai merupakan bahan daur ulang sehingga lebih ramah lingkungan. Namun selebihnya, Luhut mengungkap harapan agar GeNose bisa segera diedarkan di berbagai titik strategis lain seperti hotel, mal, hingga RT/RW.

(wk/putr)

You can share this post!

Related Posts