Kasus COVID-19 RI Tembus 1 Juta, Mengapa Masyarakat Makin Abai Protokol Kesehatan?
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Indonesia mencatat 1 juta kasus COVID-19 per Selasa (26/1) kemarin. Namun krisis yang terjadi tak membuat masyarakat lebih waspada dan cenderung abai protokol kesehatan, mengapa?

WowKeren - Indonesia resmi mencatatkan 1 juta kasus positif COVID-19 per Selasa (26/1) kemarin, tentu saja sebagai total kumulatif sejak 2 Maret 2020. Angka ini pun dibarengi dengan menipisnya ketersediaan ruang isolasi pasien COVID-19 serta kasus meninggal setiap harinya.

Untuk diketahui, setidaknya ada 7 provinsi Indonesia yang tingkat keterisian ranjang RS rujukannya sudah di kisaran 70-90 persen. Sedangkan untuk kematiannya, per Selasa kemarin sudah 28.468 dengan 336 di antaranya adalah tambahan pada hari tersebut.

Namun tampaknya krisis yang terjadi tak membuat masyarakat lebih waspada dan malah cenderung abai terhadap protokol kesehatan. Banyak kita saksikan kerumunan hingga masyarakat yang nekat tak mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker ketika di luar rumah. Pertanyaannya, mengapa malah bersikap demikian ketika wabah COVID-19 Indonesia sedang benar-benar mengkhawatirkan?

Psikolog Universitas Indonesia Dicky Pelupessy mencoba menyampaikan analisisnya terhadap situasi tersebut. Tercatat sudah 10 bulan pandemi COVID-19 terjadi di Indonesia, sebuah periode yang sangat lama dan membuat masyarakat cenderung mulai bosan.

"Pandemi ini hampir ulang tahun. Secara psikologis orang itu sudah mulai bosan, lelah aktivitasnya terus dibatasi selama itu," terang Dicky, Selasa (26/1).


Sebagai akibatnya, masyarakat mulai melakukan aktivitas normal yang seringnya dilakukan tanpa kepatuhan terhadap protokol kesehatan. "Masyarakat sudah tidak tahan dalam situasi terbatasi," kata Dicky, dikutip dari Kompas, Rabu (27/1).

"Manusia ini kan mahluk sosial. Dia harus keluar rumah untuk bekerja, bersosialisasi. Secara nature manusia makhluk sosial," imbuhnya.

Dicky turut menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai membingungkan. Salah satu contohnya saja perubahan istilah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang akhirnya membuat masyarakat semakin bingung.

"Komunikasinya membingungkan. Itu membuat masyarakat tidak peduli. Akhirnya mendorong masyarakat jadi abai," beber Dicky.

Pemerintah juga dinilai kurang konsisten dan tegas dalam menerapkan penegakan disiplin protokol kesehatan. "Akhirnya orang bisa melihat dan membandingkan. Saya enggak boleh begini begitu, kok yang itu boleh," tuturnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts