Gunung Merapi Erupsi Besar, Warga Diminta Waspada Bahaya Lahar Dingin
Nasional
Erupsi Gunung Merapi

Kepala BPPTKG Hanik Humaira mengungkapkan bahwa erupsi ini berdampak pada hujan abu vulkanik dengan intensitas tipis di beberapa desa di Kecamatan Tamansari di Kabupaten Boyolali dan Kota Boyolali, Jawa Tengah.

WowKeren - Gunung Merapi kembali erupsi dan tercatat telah mengeluarkan awan panas sebanyak 36 kali dengan jarak luncur antara 500 hingga 3.000 meter dari kawah puncak pada hari ini Rabu (27/1) siang ini. Menurut Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas tersebut mengarah ke Barat Daya atau menuju ke hulu Kali Krasak dan Kali Boyong.

Kepala BPPTKG Hanik Humaira menyatakan bahwa aktivitas Merapi kini telah memasuki fase erupsi efusif. Dalam fase ini, pertumbuhan kubah lava terus meningkat dan disertai adanya guguran lava dan awan panas.

"Sejak tanggal 4 Januari 2020 Gunung Merapi telah memasuki fase erupsi yang bersifat efusif atau yang kita kenal juga sebagai Tipe Merapi," terang Hanik melansir situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, Rabu. "Yaitu erupsi dengan pertumbuhan kubah lava kemudian disertai dengan guguran lava dan awan panas guguran."

Awan panas guguran tersebut berdampak pada hujan abu vulkanik dengan intensitas tipis di beberapa desa di Kecamatan Tamansari di Kabupaten Boyolali dan Kota Boyolali, Jawa Tengah. Hanik lantas mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III dengan jarak 5 kilometer dari puncak pada alur Kali Krasak, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Bebeng dan Kali Putih.


Tak hanya awan panas dan abu vulkanik, Hanik juga mengingatkan masyarakat akan bahaya lahar dingin. Mengingat sebagian wilayah Indonesia kini memasuki musim penghujan.

"Masyarakat juga perlu mewaspadai bahaya lahar dingin," tegas Hanik. "Terutama saat terjadi hujan di puncak Merapi."

Masyarakat juga diimbau untuk mengenakan masker untuk mengantisipasi risiko dampak abu vulkanik. Hanik juga meminta masyarakat menutup sumber atau penampungan air yang ada.

"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di daerah yang direkomendasikan," pungkas Hanik. "Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik seperti menggunakan masker, menggunakan kacamata dan menutup sumber air."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts