Kemelut di lingkup Keraton Solo kembali disorot pasca 5 orang, termasuk 2 putri keraton, dilaporkan terkunci tanpa makanan, listrik, dan air sejak Kamis (11/2).
- Elvariza Opita
- Sabtu, 13 Februari 2021 - 20:57 WIB
WowKeren - Kemelut di Keraton Solo, Jawa Tengah belakangan kembali menyita perhatian publik. Bagaimana tidak? Dua putri raja, GKR Wadansari Koes Moertiyah atau yang biasa disapa Gusti Moeng dan GKR Timoer Rumbai dilaporkan terkunci di dalam Keraton Kasunanan sejak Kamis (11/2) siang sampai Sabtu (13/2) sore hari ini.
Beruntung pada Sabtu sekitar pukul 15.11 WIB tadi, seperti diwartakan MNC Portal Indonesia, kedua putri raja beserta 3 abdi dalem akhirnya keluar dari keraton yang terkunci tersebut. Yang membuat kisah ini makin menjadi sorotan, selama masa terkunci tersebut, akses listrik, air, serta logistik terputus menyebabkan mereka harus berimprovisasi untuk tetap bertahan hidup. Bahkan dikabarkan mereka sampai memakan daun pepaya dan singkong yang tumbuh di lingkup keraton.
Gusti Moeng yang akhirnya berhasil keluar itu mengaku bersyukur. Kendati sempat terkunci, ia mengaku tetap sangat senang bisa sampai di keputren dan melihat kondisi keraton seutuhnya, yang menurutnya memprihatinkan.
"Saya sangat terenyuh melihat Keputren, tempat tinggal kita lahir dan sampai umur 34 tahun saya menikah, harus meninggalkan Keputren, luar biasa (saat melihat kondisi) seperti kuburan. Rasanya miris lihat itu. Sepertinya habis dipotongin semak-semaknya. Tapi bangunan benar-benar sudah memprihatinkan," tutur Gusti Moeng, dilansir dari Sindo News.
Gusti Moeng pun tak gentar menyuarakan rasa sedihnya melihat bagaimana keraton tidak terawat. "Selama tiga hari dua malam saya bersama jeng Timur (panggilan GKR Timoer Rumbai) bersama Sentono dan para penari, bisa menjadi menjadi saksi ketidak mampuan sinuhun (raja) untuk mengurus Keraton," katanya.
Perihal terkuncinya lima orang di dalam keraton tanpa makanan dan listrik ini disebut-sebut terkait dengan konflik yang bermula dari geger "Raja Kembar" Keraton Solo hampir 17 tahun silam. Kala itu, usai Raja Pakubuwono XII berpulang, keturunannya pun saling klaim untuk menjadi pewaris tahta.
Mereka adalah Hangabehi dan Letkol (Inf.) Tedjowulan. Sejak 9 November 2004 pun Keraton Solo mulai memiliki dua raja yang berasal dari selir berbeda ini.
Konflik tak terelakkan, hingga akhirnya berhasil didamaikan Wali Kota Solo saat itu, Joko Widodo dan anggota DPR RI Mooryati Sudibyo pada 2012. Akhirnya disepakati Hangabehi menjadi raja atau PB XIII, sedangkan Tedjowulan menjadi mahapatih dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH).
Tak disangka, polemik ternyata belum usai lantaran kemudian muncul Lembaga Dewan Adat Kraton yang menolak rekonsiliasi dan memberhentikan sang raja. Mereka yang bergabung di Lembaga Dewan Adat Keraton adalah para keturunan PB XII lain serta didukung beberapa nama termasuk Gusti Moeng dan GKR Timoer Rumbai.
(wk/elva)