Uskup Katolik di AS Cegah Jemaat Terima Vaksin Johnson & Johnson, Kenapa?
Pixnio
Nasional
Vaksin COVID-19

Sejumlah uskup Katolik di Amerika Serikat mencegah para jemaat gereja menerima suntikan vaksin corona Johnson & Johnson yang merupakan vaksin COVID-19 ketiga yang mendapatkan izin penggunaan darurat baru-baru ini.

WowKeren - Sejumlah uskup Katolik di Amerika Serikat mencegah para jemaat gereja menerima suntikan vaksin corona Johnson & Johnson karena dikembangkan menggunakan sel dari janin yang diaborsi. Konferensi Uskup Katolik AS, dengan setidaknya 6 keuskupan lain dari seluruh negeri telah mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan "keprihatinan moral."

Pernyataan terkait penggunaan sel yang dikembangkan di laboratorium, berasal dari sel yang diambil pada tahun 1980-an dari janin yang diaborsi. Johson & Johson adalah vaksin ketiga yang diberi izin digunakan di Amerika Serikat.

Sebelum mendapatkan izin penggunaan daruratnya, kantor doktrinal untuk Gereja Katolik Roma mengatakan vaksin Johnson & Johnson secara moral dapat diterima. Pernyataan baru dari Konferensi Para Uskup bertentangan dengan catatan yang disetujui oleh Paus Fransiskus, yang menerima vaksin pada Januari.

Catatan bulan Desember mengatakan bahwa "penggunaan vaksin semacam itu bukan merupakan kerja sama formal dengan sel-sel yang berasal dari janin aborsi yang digunakan dalam produksi vaksin."

Johnson & Johnson menyatakan kepada CNN, bahwa pihaknya bangga dapat membawa vaksin COVID-19 tersebut ke kancah internasional dan turut berkontribusi mengakhiri pandemi. "Vaksin COVID-19 suntikan tunggal kami menggunakan vektor adenovirus non-infektif yang tidak aktif, yang mengkode protein "lonjakan" virus corona, dan tidak ada jaringan janin dalam vaksin," kata Johnson & Johnson.


"Kami mampu memproduksi ratusan juta dosis menggunakan sistem lini sel yang direkayasa kami, dan berharap dapat memberikan dosis tersebut ke seluruh dunia dan membantu memenuhi krisis kebutuhan (vaksin)," sambungnya.

Perlu diketahui, pembuatan vaksin dengan memggunakan sel janin saat pengembangan adalah hal yang biasa terjadi. Menurut seorang ahli penyakit menular di Nebraska Medicine, James Lawler, Pfizer /BioNtech dan Moderna menggunakan sel yang berasal dari jaringan janin untuk menguji vaksin mereka.

Sedangkan vaksin Pfizer/BioNTech digunakan dalam "pengembangan, konfirmasi dan produksi" Johnson & Johnson. Sel-sel itu merupakan ribuan generasi yang dikeluarkan dari jaringan asli janin, kata Lawler.

Seiring dengan penggunaan sel, vaksin Johnson & Johnson dibuat berbeda dari dua vaksin resmi lainnya. Perusahaan mengembangkan vaksin vektor adenovirus membawa materi genetik dengan lonjakan protein virus corona ke dalam tubuh.

Sehingga sel-sel seseorang dapat memproduksi lonjakan protein sendiri dan mengaktifkan sistem kekebalannya melawan virus, ucap Lawler. "Johnson & Johnson menggunakan sel janin karena itu merupakan "standar industri yang dipelajari dengan baik untuk memproduksi vaksin vektor virus yang aman dan andal," kata Lawler.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts