Banyuwangi Waspada! BMKG Ungkap Potensi Gempa 8,7 M dan Tsunami
Unsplash/Ester Wijihastuti
Nasional

BMKG mengungkap potensi gempa bumi dengan magnitudo sampai di atas 8,0 dan tsunami di bagian selatan Pulau Jawa. Salah satu wilayah yang kemungkinan terkena adalah Banyuwangi.

WowKeren - Presiden Joko Widodo sebelumnya sudah mengungkap Indonesia sebagai salah satu negara dengan risiko tinggi bencana alam di dunia. Karena itulah Jokowi mengarahkan jajarannya untuk lebih mengedukasi masyarakat terkait mitigasi dan pencegahan bencana.

Dan kekinian ancaman bencana alam kembali disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Disebutkan bagian selatan Jawa Timur berpotensi dilanda gempa bumi hingga tsunami besar, bahkan sampai mencapai magnitudo 8,7.

"Hasil kajian para ahli, segmen megathrust Jawa Timur memiliki magnitudo tertarget 8,7," ungkap Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, Jumat (5/3). Potensi bencana ini sendiri terjadi karena keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia.

Salah satu wilayah yang sangat berpotensi dilanda gempa dan tsunami masif ini adalah Bayuwangi. Disebutkan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia di dekat kawasan itu merupakan generator gempa kuat. Kondisi ini juga mewajarkan daerah selatan Jawa sebagai kawasan rawan gempa dan tsunami.

Berdasarkan data, diungkap Daryono, Banyuwangi ternyata pernah dilanda tsunami akibat gempa magnitudo 7,8 pada 3 Juni 1994. Kala itu tinggi tsunami bahkan mencapai titik 13,9 meter dan menyebabkan 250 orang meninggal dunia.


"Pantai terdampak adalah Banyuwangi, Jembrana Bali, Benoa, Jember, Lumajang, Malang. Jadi potensi itu nyata bukan isu," tegas Daryono.

Pulau Jawa sendiri kerap diguncang gempa bumi bermagnitudo besar serta tsunami karena keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia ini. Yang terbaru, adalah gempa bumi dan tsunami di DI Yogyakarta pada 2006 lalu.

"Ini menunjukkan bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar," ujar Daryono. "Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi bukan prediksi."

Yang pasti, tegas Daryono, tidak ada yang bisa memastikan kapan gempa dan tsunami ini akan terjadi. Karena itulah, ia mengimbau setiap pihak untuk melakukan beberapa upaya mengurangi risiko bencana, baik secara fisik maupun nonfisik.

Misalnya dengan membangun bangunan aman gempa sebagai upaya mitigasi awal. "Selain itu, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman dari tsunami, serta membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami," pungkas Daryono.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts