Tak Pernah Dilibatkan, UGM Pilih Mundur dari Penelitian Vaksin Nusantara Gagasan Terawan
Unsplash/Steven Cornfield
Nasional
Vaksin COVID-19

Pihak FK-KMK UGM memutuskan untuk mundur dari penelitian vaksin Nusantara. Melalui surat yang ditujukan untuk Menteri Kesehatan Budi Gunadi, pihak UGM mengungkapkan alasannya.

WowKeren - Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK) UGM memutuskan untuk mundur dalam tim penelitian uji klinis vaksin sel dendritik SARS-CoV-2, atau vaksin nusantara. Melalui surat yang ditujukan untuk Menteri Kesehatan Budi Gunadi, pihak UGM mengungkap alasannya mundur dari uji vaksin yang diprakarsai mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto tersebut.

Wakil Dekan FK-KMK UGM Bidang Penelitian dan Pengembangan, Yodi Mahendradhata, mengatakan latar belakang pengunduran diri karena para peneliti FK-KMK UGM sejauh ini tidak dilibatkan dalam proses uji klinis, termasuk penyusunan protokol. Hal ini tentu menjadi pertanyaan bagi para peneliti FK-KMK UGM.

"Belum ada keterlibatan sama sekali. Kita baru tahu saat itu muncul di media massa bahwa itu dikembangkan di Semarang kemudian disebutkan dalam pengembangannya melibatkan tim dari UGM," ungkap Yodi dalam keterangannya, Senin (8/3).

Sebelumnya, sejumlah peneliti UGM menyatakan bersedia mendukung penelitian itu setelah menerima komunikasi informal soal rencana pengembangan vaksin di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan. Namun setelahnya, tak ada komunikasi lebih lanjut berkaitan dengan penelitian vaksin tersebut.


Para peneliti bahkan tak tahu menahu bahwa Kemenkes telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor HK 01.07/MENKES/11176/2020 yang mencantumkan nama mereka beserta posisi yang diduduki dalam tim. Fakta ini semakin membuat para peneliti UGM mantap mengajukan pengunduran diri. Mereka merasa tidak dianggap dan kurangnya komunikasi intens dengan para pihak terkait.

"Waktu itu belum ada detail ini vaksinnya seperti apa, namanya saja kita tidak tahu. Hanya waktu itu diminta untuk membantu, ya kami di UGM jika ada permintaan dari pemerintah seperti itu kami berinisiatif untuk membantu," kata Yodi lagi.

Yodi mengatakan bahwa para peneliti mengaku keberatan karena tidak pernah dilibatkan dalam seluruh proses penelitian. Bahkan, belum pernah melihat protokol uji klinis sama sekali. Atas dasar itulah, para peneliti juga tak mampu memberikan komentar apa pun terkait vaksin termaksud beserta tahap penelitiannya.

Lazimnya, menurut Yodi dalam kerja sama penelitian pihak terlibat terlebih dahulu mengadakan pertemuan dan koordinasi sebelum dimulai penelitian. Dalam kesempatan itu, Kemenkes selaku koordinator penelitian dapat menjelaskan detail penelitian yang akan dikerjakan. Namun sayang, tahapan-tahapan ini tidak dilakukan.

"Kita belum pernah menerima surat resmi, protokol, atau apapun. Teman-teman agak keberatan, kalau disebutkan sebagai tim pengembang kan harus tahu persis yang diteliti apa," pungkasnya.

(wk/lara)

You can share this post!

Related Posts