Sahabat baik aktivis Soe Hok Gie tersebut menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Tangerang Selatan pada Senin (22/3) sekitar pukul 03.00 WIB dini hari tadi.
- Bertilia Puteri
- Senin, 22 Maret 2021 - 09:59 WIB
WowKeren - Pendiri organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), Herman Lantang, dilaporkan meninggal dunia pada Senin (22/3) dini hari tadi. Sahabat baik aktivis Soe Hok Gie tersebut menghembuskan napas terakhir di RSUD Tangerang Selatan sekitar pukul 03.00 WIB.
"Beliau meninggal dunia pukul 03.00 WIB," ungkap menantu Herman, Tristia Lantang, kepada detikcom. Dengan demikian, Herman meninggal dunia di usia 80 tahun. Adapun kabar duka ini turut disampaikan di akun Instagram @hermanlantangcamp.
"Telah dimuliakan Bapa di Sorga, Papa, Opa, Buyut, Om, Bung kami yang terkasih: Herman Onesimus Lantang. Pada hari Senin, 22 Maret 2021 pukul 03.00 WIB di RSUD Tangerang Selatan," tulis keterangan tersebut. "Kiranya seluruh keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan, Tuhan Yesus memberkati."
Menurut Tristia, Herman berada dalam keadaan sehat sebelum meninggal dunia. Mendiang juga tidak mengeluhkan sakit apa pun.
"Tidak ada sakit," ungkap Tristia kepada Kumparan. "Pukul 03.00 subuh terakhir buang air, lalu meninggal."
Mendiang lantas dinyatakan meninggal dunia saat tiba di RSUD Tangerang Selatan. Tristia menjelaskan bahwa jenazah Herman akan langsung dikebumikan pada hari ini juga. "Rencana di TPU Pondok Rangon," terangnya.
Sebagai informasi, Herman merupakan mantan mahasiswa jurusan Antropologi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI). Ia juga merupakan mantan ketua senat FSUI.
Sahabat baik Soe Hoek Gie tersebut juga pernah menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno pasca G30 S dan semasa Tritura. Ia juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI dan menjabat sebagai ketua organisasi tersebut pada periode 1972-1974.
Selain hobi mendaki gunung, mendiang Herman juga tertarik dengan dunia kuliner. Sejak dua tahun silam, ia menyulap rumahnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi toko kue "Kelapa Tiga Taart Tempo Doeloe". Toko tersebut menjual aneka panganan kue-kue klasik yang menurut Herman agak susah ditemukan di Jakarta.
(wk/Bert)