Mulai Melemah, BMKG Ingatkan Siklon Tropis Seroja Penyebab Banjir Bandang NTT Bisa Picu 'Tsunami'
Instagram/dwikoritakarnawati
Nasional
Fenomena Banjir 2021

Banjir bandang di NTT terungkap disebabkan oleh siklon tropis Seroja. Dan kini BMKG juga mengungkap siklon tropis tersebut bisa menyebabkan gelombang tinggi serupa tsunami.

WowKeren - Banjir bandang yang menewaskan ratusan warga di sejumlah kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur terjadi pada Minggu (4/4) dini hari. Belakangan terungkap bahwa musibah ini terjadi akibat siklon tropis Seroja yang terjadi di lautan sekitar wilayah terdampak.

Dalam rapat koordinasi pada Senin (5/4) malam, Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, diungkaplah penyebab siklon tropis ini terbentuk. Dwikorita juga menegaskan bahwa sejak Jumat (2/4) BMKG telah mengingatkan potensi terbentuknya siklon tropis.

"Tanggal 2 itu masih potensi, masih berupa bibit siklon," terang Dwikorita. "(Terdapat) beberapa faktor yang mengakibatkan, antara lain yang paling signifikan adalah suhu muka laut yang semakin hangat di wilayah Samudera Hindia. Selain itu suhu udara di lapisan atmosfer menengah itu juga semakin hangat."

Kenaikan suhu akibat pemanasan global ini yang memicu terbentuknya siklon tropis di lautan. Pasalnya terjadi peningkatan kelembaban dan tekanan udara sehingga terbentuk aliran angin yang membentuk siklon (memiliki pusat).


Namun beruntung, berdasarkan analisis BMKG, mata badai tersebut bergerak semakin menjauhi menuju arah selatan Indonesia. "Prediksi 48 jam, tanggal 07/04/2021 pukul 19.00 WIB : Posisi : 14.8LS, 115.2BT Arah Gerak : bergerak menjauhi wilayah Indonesia Kecepatan Angin Maksimum: 70 knots (130 km/jam)," demikian kutipan analisis BMKG yang ditampilkan di YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (6/4).

Sejumlah fenomena alam pun membayangi Indonesia buntut siklon tropis Seroja ini, termasuk adanya potensi gelombang tinggi menyerupai tsunami. "(Yang harus diwaspadai) selain hujan lebat tetapi juga angin yang kencang dan gelombang tinggi. Yang dikhawatirkan, ini mirip tsunami. Jadi gelombang tingginya ini masuk ke darat, meski tidak sekuat gelombang tsunami," beber Dwikorita.

Tak main-main, ketinggian gelombang di Samudera Hindia bisa mencapai lebih dari 6 meter. Namun ketika sampai di wilayah perairan Indonesia, diprediksi hanya di kisaran 4-6 meter, sehingga harus tetap diwaspadai.

"Di perairan Nusa Tenggara Timur, di Flores, di Laut Sawu, di perairan selatan Pulau Sumba ini dapat mencapai 4-6 meter. Sehingga ini yang harus diwaspadai juga di perairan atau lautan," ujar Dwikorita.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts