Miliki 'Harta Karun', Cadangan Minyak di Indonesia Justru Menurun
pixabay.com/Ilustrasi
Nasional

Indonesia masih memiliki 'PR' untuk mengatasi penurunan produksi minyak yang telah terjadi selama seperempat abad. Hal itu karena Indonesia kurang maksimal dalam memanfaatkan kekayaan sumber daya alam.

WowKeren - Cadangan minyak di Indonesia diketahui mengalami penurunan sejak 1996. Hal itu mengakibatkan produksi minyak nasional juga ikut menurun, padahal Indonesia masih memiliki "harta karun" minyak dengan total cekungan sedimen mencapai sebanyak 128 cekungan.

Taslim Yunus selaku Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan dari 128 cekungan yang ada, Indonesia baru memanfaatkan 20 cekungan yang diproduksi. Lalu, ada sebanyak 70 cekungan yang belum dilakukan eksplorasi. Itu menandakan bahwa masih sekitar 55 persen dari potensi cekungan yang belum digarap.

Yunus menerangkan untuk meningkatkan cadangan minyak, pihak SKK Migas saat ini tengah fokus mengawasi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. "Indonesia masih ada 128 cekungan sedimen, baru 20 cekungan produksi, 70 cekungan belum eksplorasi," tutur Yunus dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Senin (19/4).


Yunus menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan pengeboran eksplorasi secara masif ke depannya dan juga berupaya menekan laju penurunan produksi yang kemungkinan tidak bisa dihindari. "Kami usahakan ekplorasi secara masif ke depan dan juga menekan penurunan produksi," imbuhnya.

Yunus mengungkapkan bahwa kegiatan eksplorasi mengalami penurunan yang signifikan di tahun 2014. Menurutnya, saat ini SKK Migas sedang berupaya mencari terobosan-terobosan baru agar investasi bisa mengalami peningkatan. "Investasi eksplorasi sejak 2014 turun tajam, ini yang harus coba dicari terobosan-terobosan baru bagaimana investasi ini bisa meningkat tinggi dan bisa hasilkan cadangan baru," tandas Yunus.

Yunus memaparkan data BP Statistical Review menunjukkan cadangan minyak Indonesia terus menurun sejak 1991. Pada 2011, cadangan kian menurun hingga 3,7 miliar barel, dan pada 2019 hanya tinggal sekitar 2,5 miliar barel.

Yunus selanjutnya menjelaskan bahwa produksi minyak dari sekitar 1,67 barel per hari pada 1991, terus menurun menjadi 1,17 juta barel per hari di tahun 2003. Kemudian menurun menjadi sekitar 972 ribu barel per hari di tahun 2007, hingga menjadi 826 ribu barel per hari pada 2019. Ia menyampaikan bahwa produksi minyak RI rata-rata hanya sekitar 677 ribu barel per hari. Jumlah tersebut lebih rendah dari target produksi tahun 2021 yakni 705 ribu barel per hari.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts