Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Adita Irawati, menyebut bahwa potensi pergerakan masif diperkirakan masih bisa terjadi meskipun mudik dilarang.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 21 April 2021 - 16:31 WIB
WowKeren - Pemerintah telah menetapkan larangan mudik Lebaran pada periode 6-17 Mei 2021 mendatang. Meski sudah dilarang, survei Kementerian Perhubungan menunjukkan masih ada sekitar 7 juta orang yang berkeinginan mudik.
"Meskipun mudik sudah diumumkan dilarang, masih ada sekitar 7 juta, setelah larangan mudik diumumkan itu masih ada 7 juta orang yang masih berkeinginan untuk mudik," tutur Juru Bicara Kemenhub, Adita Irawati, dalam diskusi virtual di kanal YouTube BNPB Indonesia, Rabu (21/4).
Oleh sebab itu, potensi pergerakan masif diperkirakan masih bisa terjadi meskipun mudik dilarang. Pergerakan masif tersebut tentu membawa konsekuensi kurang baik di masa pandemi virus corona (COVID-19) ini.
"Yang pertama, kita sadari bahwa pandemi ini belum berakhir. Kita sudah sadar tentang itu, dan meskipun angka dari hari ke hari sudah lebih baik dibandingkan beberapa bulan yang lalu, ini justru momentum yang harus kita jaga agar situasinya tidak memburuk lagi," papar Adita. "Kita lihat kalau mau belajar dari pengalaman, libur panjang sebelum-sebelumnya di akhir minggu itu selalu ada terjadi lonjakan kasus."
Lebih lanjut, Adita menyampaikan bahwa lonjakan kasus COVID-19 pasca mudik Lebaran tahun lalu bahkan mencapai 90-100 persen. Padahal, tahun lalu mudik Lebaran juga telah dilarang.
"Padahal itu sudah dilarang, tapi masih saja kan ada yang bersikeras," tutur Adita. "Nah ini adalah sebuah lesson learned yang seharusnya bisa kita jadikan pembelajaran untuk bagaimana caranya mudik ini tidak menjadi satu penyebab kasus baru atau lonjakan kasus."
Pengalaman tersebut yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk meniadak mudik Lebaran tahun ini. Selain pengalaman ini, Adita juga menyinggung soal situasi COVID-19 di India yang kini memburuk.
"India yang sebelumnya sudah sangat landai kasusnya, kemudian melonggarkan banyak protokol, dan kemudian banyak juga kegiatan-kegiatan keagamaan yang mengumpulkan orang banyak," ungkapnya. "Dan sekarang kita lihat kasusnya bisa sehari sampai 200 ribu. Ini sebuah pembelajaran yang betul-betul harus kita jadikan rujukan agar mudik kali ini tidak menjadi penyebab lonjakan kasus kembali."
(wk/Bert)