Dahlan Iskan Soal Dominasi AS dalam Pengembangan Vaksin Nusantara: Bapak Amerika, Ibu Indonesia
Instagram/dahlaniskan19
Nasional
Kontroversi Vaksin Nusantara

Dahlan Iskan turut mengomentari isu dominasi asing dalam pengembangan vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Seperti apa?

WowKeren - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengomentari isu dominasi Amerika Serikat (AS) dalam pengembangan vaksin Nusantara. Meski tak menampik keterlibatan Amerika, Dahlan meminta publik untuk tidak melabeli vaksin Nusantara sebagai produk asing.

Menurutnya, AS telah mempercayai Indonesia karena memiliki kesamaan dalam studi platform dendritik yang menjadi pendekatan vaksin Nusantara. Selain itu, Indonesia juga dianggap memiliki alat yang memadai untuk mendukung proses penelitian.

"Saya anggap vaksin Nusantara atau apapun namanya itu, bapaknya Amerika, ibunya Indonesia," kata Dahlan dalam acara "Mata Najwa" yang disiarkan langsung di Trans7, Rabu (21/4).

Dia melanjutkan, "(Vaksin) ini jangan dianggap sepenuhnya asing. Karena mereka (peneliti Amerika Serikat) mempercayai orang-orang Indonesia karena orang indonesia kebetulan sudah mempelajari hal itu juga."

Atas dasar itu, Dahlan siap mendukung pengembangan vaksin Nusantara hingga akhir. Terutama karena tujuan besarnya sejalan dengan niat Dahlan untuk mengabdikan diri ke dalam ilmu pengetahuan.


"Sehingga sepanjang menurut saya masuk akal dan komitmen dengan apa yang saya katakan bahwa saya harus mengabdikan untuk ilmu pengetahuan, maka saya harus dukung," tegas Dahlan.

Sebagai informasi, Dahlan Iskan menjadi salah satu relawan yang menyumbangkan sampel darahnya untuk pengembangan vaksin Nusantara. Sayangnya Dahlan dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai objek penelitian vaksin Nusantara, karena rutin mengkonsumsi obat yang dapat menurunkan imunitas tubuh.

Kondisi itu membuatnya tidak diizinkan untuk menerima vaksin apapun, termasuk vaksin Nusantara. "Tiap hari minum obat untuk menurunkan imunitas, harus seumur hidup dan itu tidak boleh menjadi objek penelitian," papar Dahlan.

Kendati demikian, Dahlan berharap penelitian vaksin ini bisa terus berjalan meski menerima banyak penolakan. "Tapi saya berdoa mudah-mudahan cukup relawan yang mau menyediakan diri sebagai objek penelitian dan jumlahnya cukup sesuai dengan disiplin penelitian," pungkasnya.

Sementara itu, BPOM hingga saat ini belum mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II vaksin Nusantara. Hal ini terutama dipengaruhi oleh banyaknya komponen impor dalam pengembangan vaksin tersebut.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts