Pakar Kelautan ITS Bongkar Dugaan Penyebab KRI Nanggala-402 Hilang Kontak
pixabay.com/Ilustrasi
Nasional

Hingga saat ini pemerintah Indonesia masih berupaya dalam mencari KRI Nanggala-402. Pakar kelautan ITS Surabaya membeberkan analisanya terkait hilangnya kontak kapal selam tersebut.

WowKeren - Kapal selam milik TNI AL yang hilang kontak di perairan utara Bali saat melakukan latihan torpedo pada Rabu (21/4), kini tengah menjadi sorotan publik. Salah satunya adalah pakar kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Wisnu Wardhana.

Wisnu menerangkan kasus tersebut merupakan yang pertama di Indonesia, sehingga harus menjadi refleksi pemerintah. "Sementara di Indonesia ini kasus yang pertama, saya pikir ini menjadi refleksi pemerintah, menilai diri sendiri apa yang kurang," ungkap Wisnu di Surabaya, Kamis (22/4).

Wisnu mengatakan bahwa sistem komunikasi dalam kapal selam ada dua yakni saat kapal berada di permukaan dan saat di bawah air atau menyelam. Saat berada di permukaan air, sebagian badan kapal selam muncul, sehingga komunikasi melalui radar relatif stabil. Sedangkan saat berada di dalam air (menyelam), komunikasi melewati sonar frekuensi yang dirambatkan melalui air.

"Kalau media komunikasi lewat air, kualitas komunikasi bergantung dari karakter air," tutur Wisnu. "Misalkan, arusnya tinggi, maka media komunikasi akan terbawa mengikuti arus air, belum lagi parameter media komunikasi yang lain."


Wisnu menyebut semua parameter media itu berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi resultan nol yang sampai ke penerima. Hal itu lah yang disebut dengan black out atau hilangnya kontak.

Lebih lanjut, pada kasus hilang kontak KRI Nanggala-402 terlebih dahulu dilihat dari beberapa aspek seperti akibat media air yang resultannya nol atau ada kerusakan peralatan teknis. "Pada kasus kapal selam KRI Nanggala-402 ini harus dilihat dari beberapa sisi, apakah akibat media air yang resultannya nol, ataukah kerusakan peralatan teknis," terangnya.

Wisnu menduga ceceran minyak yang ditemukan di lokasi penyelaman KRI Nanggala-402 merupakan bahan bakar kapal tersebut. Di dalam kapal selam, desain konstruksinya ada yang namanya pemberat, untuk kapal selam tahun 1980-an, kedalaman yang memungkinkan adalah 380 meter atau sekarang mungkin hanya 300 meter. Jika dipaksa lebih dari itu, tangki pemberatnya akan rusak.

"Jika dipaksa lebih dari itu, tangki pemberatnya ini seperti diremas karena ada gaya hidrostatik dari air yang meremas kapal selam," beber Wisnu. "Kalau sampai ada oli dan cairan minyak di permukaan air, ini indikasi tangki pemberatnya rusak."

Wisnu menambahkan semua penyebab harus diidentifikasi mulai dari sistem, mesin dan pengemudi. Jika masalah bisa diidentifikasi, maka akan bisa menetralisasinya. "Jika kesalahan bisa diidentifikasi nantinya bisa menetralisasi masalah, tetapi selama KRI Nanggala-402 tidak bisa kontak, maka tidak bisa menetralisasi masalah," terang Wisnu.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait