Kemndikbudristek yang dipimpin oleh Menteri Nadiem Makarim disebut hanya akan mengurus riset yang berkaitan dengan pendidikan dan Badan Usaha Perguruan Tinggi Negara (BUPTN) saja.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 01 Mei 2021 - 12:37 WIB
WowKeren - Laksana Tri Handoko telah resmi dilantik sebagai Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) anyar usai Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dilebur ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menurut Tri Handoko, sejumlah lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) seperti LAPAN, LIPI, BPPT, hingga BATAN akan dilebur ke dalam BRIN.
"Ya (dilebur). Kalau sesuai ini-nya ya empat lembaga itu, plus BATAN. Ya, default-nya ke BRIN," jelas Tri Handoko kepada Kumparan, dikutip pada Sabtu (1/5). "Karena di Kemendikbud kan hanya sedikit ya."
Lebih lanjut, Kemndikbudristek yang dipimpin oleh Menteri Nadiem Makarim nantinya hanya akan mengurus riset yang berkaitan dengan pendidikan dan Badan Usaha Perguruan Tinggi Negara (BUPTN) saja.
"Ya, yang dipakai ke Mendikbud itu yang kalau ada di sisi anggaran itu yang BUPTN saja. Dan Mas Nadiem juga menyampaikan bahwa mereka hanya akan mengurus itu," papar Tri Handoko. "Aspek riset untuk kampus saja, sehingga kampus itu satu ataplah."
Sebagai informasi, empat lembaga IPTEK tersebut sebelumnya berada di bawah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) yang dulu masih bergabung dengan BRIN. Usai Kemenristek dilebur ke Kemendikbud, BRIN pun menjadi lembaga tersendiri.
Meski demikian, Sekretaris Negara hingga kini masih belum mempublikasikan Perpres BRIN. Perpres tersebut mengatur soal struktur kelembagaan BRIN dan lembaga terkait lainnya.
Di sisi lain, Tri Handoko yang merupakan mantan Kepala LIPI mengaku memiliki strategi memajukan pengembangan riset di Indonesia dengan mengedepankan penelitian di bidang biodiversitas. Menurutnya, Indonesia merupakan mega biodiversity country terbesar kedua di dunia yang dapat diandalkan.
"Pertama kita harus mengejar ketertinggalan teknologi, kedua adalah utilisasi dari biodiversitas yakni dari sumber daya alam lokal," papar Tri Handoko dalam wawancara bersama CNN Indonesia. "Bagaimana kita mengembangkan material-material baru dari sumber daya alam Indonesia, bagaimana kita mengembangkan obat dari biodiversitas Indonesia untuk menciptakan berbagai obat."
(wk/Bert)