Pemuda di DKI Meninggal Sehari Setelah Divaksin AstraZeneca, Komnas KIPI Sebut Ada Temuan Baru
commons.wikimedia.org/Rwendland
Nasional
Vaksin COVID-19

Ketua Komnas KIPI mengungkap pembaruan dari investigasi kematian pemuda 22 tahun di Jakarta Timur yang meninggal sehari setelah menerima suntikan vaksin AstraZeneca.

WowKeren - Investigasi kematian pemuda 22 tahun bernama Trio Fauqi Firdaus yang meninggal sehari setelah menerima vaksin AstraZeneca terus dilakukan. Pada Sabtu (15/5), Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Hingky Irawan Satari mengungkap temuan baru terkait penyelidikan kasus tersebut.

Hindra menegaskan bahwa riwayat kesehatan bukan penyebab wafatnya pemuda tersebut, sehingga tak menutup kemungkinan kematiannya berkaitan dengan vaksin AstraZeneca. Temuan itu ia dapatkan setelah melakukan investigasi bersama dokter pribadi pemuda.

"Sudah keluar (investigasi dengan dokter yang bersangkutan) tapi karena rekam medik ini kan nggak boleh disebutkan, cuma tidak terkait dengan penyebab meninggal yang bersangkutan," kata Hindra, dilansir dari Detik.com, Sabtu (15/5).

Kendati demikian, otopsi diperlukan untuk memastikan penyebab utama kematiannya. Apakah disebabkan oleh vaksin Corona AstraZeneca atau faktor lain.

Hindra juga mengungkap sulitnya melihat keterkaitan antara kematian Trio dengan vaksin tersebut. Pasalnya, data yang dikumpulkan sangat terbatas sebab yang bersangkutan sudah meninggal saat dibawa ke rumah sakit.


"Harusnya juga kan ada (data) trombosit yang jumlahnya rendah itu. Nah ini kan kita enggak bisa dapat, orang sudah wafat datang ke rumah sakitnya," ungkap Hindra. "Mungkin kalau sempat dirawat, bisa diperiksa labnya, bisa CT scan kepala ya, cuman sayang (sudah wafat)."

Hindra juga menjelaskan bahwa BPOM tengah melakukan uji sterilisasi untuk mengetahui apakah vaksin yang diberikan kepada Trio terkontaminasi zat berbahaya atau tidak. "Kita uji sterilitas dan toksitasnya dari vaksin tersebut, di lab-nya BPOM, untuk menguji si kualitas vaksin-nya," jelasnya.

Lebih lanjut, Hindra mengatakan bahwa risiko vaksinasi lebih rendah jika dibandingkan dengan manfaatnya. Karena itulah ia meminta masyarakat untuk ikut mensukseskan gerakan vaksinasi Corona agar pandemi segera terkendali.

"Ini kan tindakan medis ya mau divaksin, jadi memang ada risiko medis tuh, enggak mungkin enggak ada, semua buatan manusia, orang minum parasetamol aja ada risiko, tapi manfaat dari vaksin jauh lebih besar ketimbang risikonya," pungkasnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa program vaksinasi COVID-19 menggunakan vaksin AstraZeneca akan terus dilakukan meski kajian dan investigasi KIPI belum rampung. Hal itu sesuai dengan rekomendasi dari WHO (Badan Kesehatan Dunia).

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts